Cappuccino
Cappuccino adalah minuman khas Italia yang dibuat dari espresso dan susu. Cappuccino mempunyai rasa dan aroma yang khas, selain itu para barista dapat menciptakan seni latte pada microfoam, menciptakan desain-desain tertentu seperti apel, hati, daun, dan rangkaian.
Tari Legong dari Bali
Legong merupakan sekelompok tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari gambuh.
Rawa Danau dengan segala keindahannya
Rawa Danau adalah Kawasan hutan seluas 2.500 ha yang ditetapkan sebagai Cagar Alam. Rawa Danau merupakan rawa yang terluas di Pulau Jawa dengan segala keindahan alam yang masih terjaga.
SXC2 (Serang XC Community)
Serang XC Community adalah komunitas sepeda gunung yang berada di Serang-Banten. Komunitas ini berdiri dengan tujuan silaturahmi sesama goweser dan mendukung juga gerakan go green.
Gabson Family
Gabson Family adalah sekumpulan manusia yang mempunyai banyak kekurangan dan berusaha menutupi kekurangan itu satu sama lain. Dari kekurangan itulah kami menjadi sebuah keluarga.
Minggu, 05 Mei 2013
We're in the edge of Ujung Kulon National Park
Rabu, 17 April 2013
Keindahan Alam Pulau Oar
Sabtu, 16 Maret 2013
Penasaran Dengan Pulau Panjang
Sesampainya
di pantai utara, rasa penasaran saya pun terjawab.Ternyata pasir putih yang
saya lihat lewat GPS di iphone itu ternyata hanya sekumpulan batu-batu karang yang
sudah berwarna putih yang telah menutupi pasir pantai. Pantai disini pun
sebagian besar berupa karang, tidak ada sama sekali pantai dengan hamparan
pasir putih. Berjalan menelusuri bibir pantai kearah timur pun yang ditemui hanya hamparan karang.
Ditengah-tengah penelusuran, saya bertemu dengan ibu-ibu warga Kampung Baru
yang sedang mencari rumput laut, katanya rumput laut yang dicari cukup susah,
dan hasilnya pun buat di konsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Ketika ditanya
letak pantai pasir putih yang bisa berenang,
mereka pun menjawab tidak ada, yang ada hanya hamparan karang saja.
Beginilah keadaan Pulau Panjang, walaupun tidak
bisa berenang, tapi rasa pensaran saya pun terjawab. Sampai pukul 17.00
WIB saya menelpon Kang Sobri (ojeg yang mengantarkan saya) untuk minta
dijemput.Ternyata yang datang adalah sodara nya Kang Sobri, yaitu Kang Nafik. Sama Kang Nafik inilah saya
diantar menuju Kampung Pasir Putih untuk mengisi perut yang dari tadi siang
belum sempat terisi. Disini
memang tidak ada warung nasi a.k.a warteg, hanya ada warung yang jual gado-gado
atau ketoprak, itupun mungkin hanya ada di Kampung Pasir Putih. Setelah makan,
lalu ngobrol sama Kang Nafik masalah penginapan, dengan berbaik hati Kang Nafik
pun menawarkan saya untuk tidur dirumah nya, karena kebetulan hanya ada mertua
nya dan anak Kang Nafik saja. Di antarlah saya kerumah Kang Nafik untuk
magriban sejenak.
Setelah
magriban, mengobrol banyak dengan orang mertua nya yang menurut saya tau banyak keadaan sosial,
politik, serta potensi yang dimiliki oleh Pulau Panjang ini. Sampai saya diajak mau ‘ngobor’ gurita, akan
tetapi Kang Nafik mengajak saya ke dermaga di Kampung Pasir Putih untuk melihat
yang mincing ikan disana. Sampai di dermaga, memang banyak juga orang mancing, jika dilihat
rata-rata mereka mendapat
cumi-cumi kecil. Saya
menghabiskan malam disini, karena memang tidak ada tempat menarik lagi di Pulau
Panjang ini. Di dermaga ini kita bisa melihat lampu-lampu pabrik disebrang sana
tepatnya disekitar Bojonegara yang menyala cukup banyak dan terlihat indah dari
kejauhan. Dermaga ini tempat bersandarnya perahu penumpang dari arah
Bojonegara, jadi selain dari pelabuhan Karangantu, kalian bisa juga menuju
Pulau Panjang ini dari Pelabuhan Bojonegara. Suasanan malam itu sangat tidak
cukup membuat saya tenang, bukan karena suasana alam nya, akan tetapi keributan
yang di timbulkan oleh seorang anak
kecil yang bener-bener sangat menjengkelkan. Kang Nafik banyak bercerita
tentang keadaan masyarakat di Pulau Panjang, yang salah satunya yaitu jika ada
rumah di pulau ini yang cukup bagus (sudah kramik dan tembok semen bercat) itu
merupakan salah seorang keluarga nya kerja sebagai TKI ke luar negeri. Termasuk Istri Kang Nafik
yang bekerja ke Arab. Kebanyakan
orang yang punya di pulau ini bekerja sebagai TKI, cetusnya. Selanjutnya, katanya
listrik di pulau panjang ini memang benar hanya menyala pada pukul 18.00-06.00
WIB dengan menggunakan tenaga disel, tetapi ada bantuan baru yaitu berupa
pembangkit listrik tenaga surya, yang sudah berjalan 1 bulan. Listrik tenaga
surya ini dapat menghidupkan listrik rumah-rumah warga pada siang hari yang
diberikan secara gratis, akan tetapi kedepannya nantinya akan dipungut biaya. Obrolan demi obrolan
berlalu hingga pukul 21.30 WIB, kita pun pulang kerumah untuk beristirahat,
dikarnakan esok pagi saya harus berlayar kembali pulang ke Pulau Jawa.
Rabu,
13 Maret 2013 sekitar pukul 7.30 WIB saya di antarkan ke dermaga di Kampung
Peres, katanya akan ada perahu keberangkatan ke pelabuhan Karangantu sekitar
pukul 8.00 WIB. Setiba nya di dermaga,
saya pisah dengan Kang Nafik dan anak, tidak lupa memberi sedikit upah
terimaksih saya atas waktu dan tempat menginapnya. Sekitar pukul 8.30 WIB
perahu pun berlayar menuju pelabuhan
Karangantu dengan tiket sebesar Rp. 7.000 per-orang. Hingga sampai di pelabuhan Karangantu sekitar
pukul 9.00 WIB dan langsung mengambil motor
di pos satpam dilanjutkan perjalanan pulang. Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat. Rasa penasaran saya pun
terjawab semua, itung-itung tambah pengalaman, heheh. Mungkin next trip ke Pulau Tunda deh.Jumat, 09 November 2012
TRIP BALI PART 2
Jum’at 9 November 2012 tepat pukul 7.00 WITA kami siap berangkat menuju Krisna. Dimana sebelumnya kita telah membuat kesepakatan dengan yang lain bahwa hari ini kita harus berangkat tepat waktu yaitu jam 7. Karena di Krisna tidak mungkin belanja dengan waktu cuman 1 jam saja. Sehingga kami pun terpaksa harus bangun cepat agar tidak telat. Setelah kami semua sudah menaiki bis, bis pun berangkat menuju Krisna. Tampak terdengar membosankan bagi Saya mendengar Krisna, karena setiap ke Bali pasti mampirnya kesini untuk beli oleh-oleh, dan keadaan mood Saya disini sedang males beli oleh-oleh. Alhasil sesampainya di Krisna, Saya pun hanya bisa keliling nemenin si Ruby belanja oleh-oleh, teman-teman yang lain pun tampak begitu semangat mencari barang buruan nya untuk buah tangan orang-orang di rumah. Waktu belanja di Krisna pun sudah usai, saatnya kita bergegas memasuki bis dengan tujuan wisata selanjutnya adalah Tanjung Benoa. Tanjung Benoa berada di kawasan private Nusa Dua, karena di Nusa Dua ini banyak berdiri hotel-hotel mewah dan kawasan ini biasa digunakan rapat penting oleh pejabat-pejabat dalam negeri maupun luar negeri. Dulu kawasan Nusa Dua ini jarang penduduk, karena kontur tanah nya kapur sehingga cukup sulit untuk mendapatkan air bersih di kawasan ini. Karena Bali membutuhkan tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat penting, tertutup dan aman. Maka Nusa Dua dibangun sedemikian rupa sehingga menjadi sekarang ini.
Setelah mandi dan beberes barang bawaan, Saya, Ruby & Rizkar mulai membicarakan rencana besok. Untuk peribadi sih, Saya merasa kalo rencana ke Lombok ini gagal, maka apa kata teman-teman dan orangtua Saya, pasti Saya merasa malu dan berat hati. Apa yang Saya rasakan ternyata sama apa yang Rizkar rasakan. Setelah lama berdiskusi dengan sedikit ketegasan Saya pastikan budget dari masing-masing orang. Saya sisa uang 700 ribu, Ruby 500 ribu dan ternyata Rizkar mau menyumbang 1 juta. Wow, ini sih sudah dapat dipastikan bisa berangkat ke Lombok. Akhirnya Rizkar dengan rasa persahabatan dan persaudaran yang tinggi mau mengeluarkan budget terakhirnya. Kata Rizkar “apa sih yang ga buat temen mah”, itu lah kata-kata yang biasa diucapkan didalam persahabatan kami, sehingga diantara kami tidak ada rasa perhitungan sama sekali, kami semua sama, susah senang kami selalu lewati bersama. Satu yang mungkin bisa di ambil dari persahabatan kami, yaitu jangan pernah saling perhitungan, kalo lagi ada uang ya kami berbagi, kalo tidak ada uang pasti sahabat kami akan memberi. Akhirnya, dengan niat, dengan tekad bulat, dengan budget kurang, dengan ke-nekat-an, Saya, Ruby dan Rizkar akan berangkat ke Lombok esok hari. Ya, mari kita bersulang kawan...
Ditengah perjalanan, mas Rizki selaku pihak travel yang berniat akan mengantarkan kami ke Ngurah Rai ternyata berdalih, dan katanya cuma bisa mengantarkan kami sampai Terminal Ubung saja. Sesampainya di terminal Ubung, lalu kami mencari taksi untuk berangkat ke Ngurah Rai, akan tetapi seorang sopir angkot dating menghampiri kita. Dia coba untuk menawarkan angkutan ke Ngurah Rai dengan harga Rp. 80.000,-. Tanpa pikir panjang langsung kita pun naik angkot itu, karena kita melihat disekitar tidak ada taksi dan waktu kita pun sangat terbatas. Memang di Bali ini angkutan umum seperti angkot ini beroprasinya di tempat tertentu dengan batas waktu hanya sampai jam 8 an malem. Sepanjang perjalanan yang cukup jauh kita ngobrol dengan sopir nya sambil melihat-lihat lalu lalang jalan. Sampai akhirnya kita terhenti cukup lama di Simpang Siur, karena dampak dari ada mega proyek pembangunan jalan Tol diatas air dan jalan bawah tanah (underpass). Dari Simpang Siur jarak ke Bandara Ngurah Rai tinggal hanya tinggal beberapa kilometer lagi. Bisa dibayangkan jika kita ke Ngurah Rai dengan menggunakan angkot, mungkin kita satu-satu nya yang ke Bandara Ngurah Rai dengan menggunakan angkot, dengan style pakaian rapih dan membawa koper yang besar. Ini merupakan first time Saya ke Ngurah Rai dengan keadaan seperti ini. Apa mau dikata, toh yang penting kita sampai di Ngurah Rai dengan tepat waktu, budget murah dan mungkin ketika kita jalan disana ga akan tau ini mereka apa yang terjadi pada kita, hahah. Sesampainya di Ngurah Rai, kita langsung turun kebut dari angkot dan langsung jalan untuk mencari loket tiket. Rizkar dan Ruby menunggu di lobby, Saya dan Adit ke loket tiket Citilink untuk minta reschedule penerbangannya si Adit jadi hari ini. Ternyata biaya reschedule penerbangan si Adit mencapai 700 ribu. Cukup mahal juga, dikira sekita 150 ribu-an. Saya pun coba tanya loket tiket penerbangan yang lain untuk keberangkatan hari ini, ternyata harga nya rata-rata mencapai 900 ribu. Ketika Saya balik lagi ke loket tiket Citilink, ada seorang calo tiket yang ternyata dari tadi memperhatikan kami dan dia pun bertanya tentang masalah tiket kami. Saya pun mulai merasa terusik, akan tetapi si calo nih menawarkan kami tiket Lion Air yang harganya 600 ribu untuk penerbangan hari ini, dengan syarat tuker tambah dengan tiket Citilink si Adit. Tanpa pikir panjang si Adit pun setuju dengan si calo tersebut dan dia pun langsung chek in dan pamit sama kita, karena dia dapet tiket dengan keberangkatan pukul 11.00 WITA, sekitar 1 jam untuk dia mengurus keberangkatannya.
Setelah makan dan sholat, Saya pun berencana beli tiket sendiri ke loket tiket tanpa Ruby dan Rizkar, karena untuk menghindari dari calo tiket. Ketika di loket tiket pun calo tiket tetap menghampiri Saya, dan yang Saya heran kenapa pegawai Dinas Perhubungan yang menjaga sebagai petugas tiket melihatnya biasa saja dan seakan tidak mau ikut campur. Setelah tiket berhasil Saya beli langsung saja kami memasuki kapal ferri Jasmine, yang katanya masih baru dan bagus. Benar saja apa yang di katakan calo tiket tadi, Kapal Jasmine ini fasilitas nya bagus, ada ruang lesehan AC nya, jadi dapat tidur nyenyak. Untung saja kami masih sempat naik kapal ini, karena tadi memang kami telah membuang waktu 1 jam ketika dipaksa calo tiket untuk menaikinya. Setelah kami menaiki kapal, tak lama kemudian kapal pun mulai berlayar perlahan meninggalkan Pelabuhan Padang Bai sekitar pukul 14.00 WITA. Kami istirahat di ruang lesehan AC, karena mengingat perjalanan yang cukup lama hingga 5 jam-an. Di ruang lesehan ini tidak begitu padat penumpang, begitu juga dengan tempat duduk di luar kapal. Jadi kami lebih leluasa untuk beristirahat sejenak. Tapi barang-barang bawaan harus tetap waspada ya..
2½ jam berlalu, kapal pun mulai terasa goyang-goyang cukup kuat, hingga Saya pun terbangun melihat jendela. Ternyata kita sedang berada di tengah selat Lombok, cukup membuat penasaran, Saya pun keluar den menujuk dek atas kapal. Dari sini sudah terlihat pulau Lombok dengan bukit-bukit nya, dan membuat Saya merasa ingin cepat-cepat sampai disana. Ketika melihat suasana indah di atas kapal, Saya pun teringat dengan sodara jauh Ruby yang orang Lombok. Ceritanya mamah Ruby punya sepupu perempuan, nah sepupu perumpuannya itu nikah sama orang Lombok, yang mana dia punya adik di Lombok. Nah, kita tuh berencana untuk menghubungi adik suami nya sepupu mamahnya Ruby. Dengan bermodalkan nomor telpon yang dikasih langsung oleh suaminya itu, Saya pun coba untuk menelponnya, karena Ruby sendiri tidak berani. Setelah di telpon dan direspon menurut Saya cukup baik dengan akhiran dijanjikan akan ditelpon kembali, kami pun menaruh harapan kecil pada sodara jauh Ruby yang bernama Om Rudy ini. Sambil menunggu Om Rudy menelpon lagi, kami pun pindah posisi ke dek atas kapal untuk menikmati pemandangan. Pada saat itu, pulau Lombok benar-benar terlihat jelas bukit-bukitnya, mungkin ini tanda nya sebentar lagi kita akan berlabuh. Saya lihat disekitar tempat duduk di dek atas kapal, banyak bule yang sedang baca buku, sedangkan banyak orang Indonesia menghabiskan waktu perjalanan nya dengan dengar musik, tidur bahkan ngerokok terus sampe bosan. Sungguh perbedaan budaya yang sangat kontras.





