Cappuccino

Cappuccino adalah minuman khas Italia yang dibuat dari espresso dan susu. Cappuccino mempunyai rasa dan aroma yang khas, selain itu para barista dapat menciptakan seni latte pada microfoam, menciptakan desain-desain tertentu seperti apel, hati, daun, dan rangkaian.

Tari Legong dari Bali

Legong merupakan sekelompok tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari gambuh.

Rawa Danau dengan segala keindahannya

Rawa Danau adalah Kawasan hutan seluas 2.500 ha yang ditetapkan sebagai Cagar Alam. Rawa Danau merupakan rawa yang terluas di Pulau Jawa dengan segala keindahan alam yang masih terjaga.

SXC2 (Serang XC Community)

Serang XC Community adalah komunitas sepeda gunung yang berada di Serang-Banten. Komunitas ini berdiri dengan tujuan silaturahmi sesama goweser dan mendukung juga gerakan go green.

Gabson Family

Gabson Family adalah sekumpulan manusia yang mempunyai banyak kekurangan dan berusaha menutupi kekurangan itu satu sama lain. Dari kekurangan itulah kami menjadi sebuah keluarga.

Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

We're in the edge of Ujung Kulon National Park

Pulau Peucang yang keberadaannya di ujung barat Pulau Jawa akhirnya berhasil kami singgahi, keadaan alam yang masih liar dan hampir tidak terjamah oleh orang lain membuat daya tarik tersendiri. Secara administratif Pulau Peucang masuk kedalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, dan merupakan salah satu Pulau yang memiliki keindahan alam yang sangat alami dan menakjubkan. Tidak salah banyak wiksatawan lokal maupun mancanegara penasaran dan berkunjung ke pulau yang satu ini, untuk menikmati hingga menyatu dengan keindahan alamnya.

Karena Pulau Peucang ini termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, jadi banyak sekali peraturan yang harus ditaati sebelum memasuki Pulau Peucang, seperti perizinan masuk kawasan. Untuk mencapai Pulau Peucang ini ada banyak cara, yang pertama dengan cost murah berawal dari Terminal Pakupatan Serang, naik mobil Elf jurusan Tamanjaya yang biasa ada pukul 12.00, kalau sudah ketinggalan mobil bisa naik mobil bus Asli atau Murni jurusan Labuan, kemudian naik mobil Elf jurusan Tamanjaya, atau bisa juga naik mobil Damri pada pukul 04.00 WIB subuh sampai Pertigaan Sumur, kemudian dilanjutkan naik mobil elf (kalau ada) atau Ojek ke Tamanjaya (karena disana tidak ada angkutan umum). Sesampainya di Tamanjaya, kalian bisa menyewa kapal nelayan, dengan harga minimal 1,5 juta perhari untuk menuju Pulau Peucang. Cara kedua dengan biaya sangat mahal, perjalanan dari Terminal Pakupatan Serang menuju arah Labuan dengan mobil Bus Asli atau Murni, kemudian dari Labuan langsung naik speed boat menuju Pulau Peucang, tentunya perizinan masuk kawasan di urus dahulu di Kantor BTNUK yang berada di Labuan. Cost sewa speed boat minimal 4 juta. Tinggal kalian pilih sesuai dengan budget, jika kalian dari Jakarta, biasanya Bus jurusan langsung ke Labuan.





Jum’at 19 April 2013, sekitar pukul 4.00 WIB kami berkumpul di depan Sari Asih, setelah melewati problem yang hampir membuat rencana gagal. Transport pun baru malem itu kami carter mobil dari terminal pakupatan, yang lucunya mobil yang kami carter itu jurusan Malingping-Cikeusik-Serang, bukan jurusan Tamanjaya-Serang.  Harga yang ditawarkan si supir pun terbilang cukup murah, yaitu 600 ribu sekali jalan. Sekitar pukul 4.30 WIB kami berangkat ke Taman Jaya. Sopir pun  langsung memacu mobilnya, yang berhasil membuat rombongan merasa mual-mual, haha. Jalan dari pandeglang sampai sumur masih terbilang bagus, karena masih beraspal dengan sedikit lubang. Tapi jalan dari Sumur sampai Tamanjaya itu yang WOW, rusak parah ga ada bentuk. Jarak sih cuman 20 Km, tapi ditempuh dengan waktu 1,5 jam, kalo mulus 30 menit juga sampe deh.




Pukul 9.30 WIB kami sampai di Tamanjaya, lalu langsung menuju tempat Pak Komar. Setelah berbincang-bincang dengan Pak Komar, ternyata sedang ada kelangkaan Solar dan berimbas pada penundaan keberangkatan. Kami pun  terpaksa harus menunggu hingga siang, sore bahkan hingga keesokan harinya. Sungguh diluar perkiraan, makanan-makanan yang kami sudah beli pun terpaksa kami bongkar. Tampak dimuka teman-teman kejenuhan terlihat, dan kami pun terpaksa menerima imbas dari kelangkaan solar ini. Bagi teman-teman lain jika ingin ke Pulau Peucang dan sudah booking kapal, jangan lupa untuk menanyakan Solarnya ada atau tidak, kalo tidak ada bisa kalian beli dulu sebelum sampe Sumur. Bahkan kata Pak Komar, anak buahnya nyari solar sampe Labuan. 




Sabtu 20 April 2013, sekitar pukul 9.30 WIB, kapal yang kami tunggu akhirnya sudah ada solarnya. Untuk berangkat ke Pulau Peucang diharuskan membayar surat izin masuk kedalam kawasan per orangnya dikenakan Rp.5.500, dan perahu juga dikenakan biaya sebesar 100 ribu. Urasan perizinan beres kami pun langsung menuju dermaga dengan gembira, walaupun satu hari terbuang sia-sia yang penting kami akhirnya bisa ke Pulau Peucang juga. Untungnya Pak Komar berbaik hati memberikan kami tempat istirahat secara cuma-cuma akbiat dari imbasnya menunggu solar, yaitu di Sunda Jaya (tempat penginapan punya Pak Komar), jadi kami pun merasa segar bugar dan tetap ceria selama perjalanan menuju Pulau Peucang. Ditengah-tengah laut kami bertemu kapal nelayan dan coba menghampirinya untuk membeli ikan. 100 ribu dapat lumayan banyak ikan, haha.



Setelah mengarungi lautan kurang lebih selama 3 jam, akhirnya nampak dari kejauhan terlihat dermaga yang dibalut dengan air laut yang berwarna biru dan kehijauan dengan pasir putih di atasnya. Ketika kapal bersandar, tugu yang bertuliskan Pulau Peucang pun terlihat, Alhamdulillah sekitar pukul 13.30 WIB kami sampai di Pulau Peucang. Ketika menginjakan kaki di atas dermaga, tampak terlihat beribu-ribu ikan yang sedang menari-nari di air laut yang begitu jernih dan tenang. Padang rumput hijau yang begitu luas menjadi halaman dari beberapa bangunan (penginapan) yang ada di Pulau Peucang ini. Rusa, babi hutan dan monyet pun turut serta meramaikan padang rumput yang begitu luas itu, seolah-olah mereka menyambut kedatangan kami. Tapi tenang saja, mereka semua sudah pada jinak kok, dan perlu diingat kalau bawa makanan jangan asal taruh, karena akan langsung menjadi sambaran monyet bahkan babi hutan.



Saya pun langsung menuju pusat informasi untuk menanyakan kamar, mengingat takut tidak kebagian kamar fauna yang harganya cukup murah, yaitu sekitar Rp. 250.000 per kamar. Ternyata benar saja kami kehabisan kamar Fauna, yang dimana fauna ini pengelolanya dari pemerintah, lalu kami mengambil kamar di Flora, yang pengelolanya itu dari pihak swasta, tentunya harga nya agak sedikit mahal yaitu Rp. 650.000. Mau nginep di barack sekitar Rp. 150.000 per kamar, tapi keadaanya kurang enak, seperti kamar mandi di luar, dan kasurnya pun hanya ngampar begitu saja di lantai kayu. Memang di barack ini 1 kamar, bisa muat untuk 10 orang. Kalau laki-laki semua sih ga jadi masalah tidur di barack juga, tapi karena kami ada perempuannya juga, jadi kasihan juga kalau harus tidur di barack. Akhirnya kami putuskan untuk tinggal di Kamar Flora dengan harga yang turun sedikit dari harga semula.



Setelah barang-barang di taruh di kamar yang begitu kecil, hanya terdapat 2 single bed dengan kamar mandi di dalam, kami pun langsung mencari spot untuk snorkeling, karena mengingat untuk ke Tanjung Layar tidak memungkinkan waktunya. Spot pertama, kami di beritahu di sebelah kiri dermaga bila jalan kaki dulu sekitar 10 menit bagus spot snorkelingnya. Akan tetapi kami tidak menemukannya dan jalan lagi ke arah kanan dermaga yang katanya juga ada spot snorkeling juga. Nah di spot kedua ini cukup dekat dari dermaga, tidak terlalu bagus untuk spot disini, dan terumbu karang disini jarang-jarang jarak nya. Jadi ikan-ikan pun tidak begitu banyak.



Setelah snorkeling, kami kembali ke cottage, untuk makan siang yang sudah dimasak oleh awak kapal. Karena saya penasaran dengan spot snorkeling pertama, saya, Reza dan Al balik lagi kesana, kata petugasnya ada tanda nya kok dan posisi nya itu tepat setelah muara kecil. Benar saja ketika sampai, ikan ikan dibibir pantai pun terlihat banyak. Ternyata posisi nya itu tidak jauh dari posisi kami awal berenang, memang posisi spot snorkeling ini tertutup dengan pohon yang tumbuh menutupi bibir pantai, tapi inilah spot snorkeling yang paling bagus di Pulau Peucang. Dekat bibir pantai pun kami bisa melihat kumpulan ikan-ikan karang, dan ketika kami mencoba menjauh dari bibir pantai barulah terlihat surga bawah laut Pulau Peucang. Berbagai macam spesies ikan yang berwarna-warni dengan terumbu karang sebagai rumahnya menarik perhatian kami. Terumbu karang disini cukup dekat dengan permukaan air, jadi hati-hati bagi kawan-kawan yang snorkeling disini. Jangan sampai menginjak terumbu karang dan merusaknya yah, karena terumbu karang itu dalam jangka 1 tahun hanya dapat tumbuh sekitar 1-5 cm.



Sekitar pukul 16.00 makan sore, dilanjutkan menuju Cidaon sekitar pukul 17.00, meleset dari target keberangkatan awal. Jadi lah sampai di Cidaon agak mulai gelap, tetapi kami di sambut oleh segerombolan burung merak di padang Banteng Cidaon, jadi selain kami melihat banteng, kami juga melihat segerombolan burung merak. Burung merak memeng sangat pemalu, apabila kita berisik dan mulai mendekat, mereka satu persatu mulai kabur, dan sisa tinggal banteng betina saja. Banteng jantan yang berwarna hitam sedang tidak merumput, mungkin kalau datang sekitar pukul 16.00 WIB akan terlihat. Tiket masuk ke kawasan Cidaon ini Rp. 10.000 per orang nya. Langit pun perlahan mulai menggelap, kami pun harus kembali ke cottage, untuk beristirahat dan mempersiapkan tenaga untuk aktivitas esok hari. Tapi malam itu berubah menjadi tawa, canda dan bahagia menyelimuti kami semua.



Sabtu, 21 April 2013, tujuan trip hari ini yaitu menuju Tanjung Layar, yaitu dimana terdapat titik 0 KM dari pulau Jawa. Di Tanjung Layar juga terdapat reruntuhan bangunan pada jaman Belanda, yang dimana terdapat pula penjara bawah tanah. Sekitar pukul 09.15 WIB kami berangkat ke Tanjung Layar, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Pulau Peucang. Tiket masuk ke Tanjung Layar ini  sekitar Rp. 15.000 per orang dan untuk tiket speed boat nya Rp. 200.000 per trip. Kenapa pake speed boat? dikarnakan perahu kami tidak bisa bersandar di Cibom, jadi kami harus menaiki speed boat untuk diantarkan hingga bibir pantai. Tepatnya di Cibom kami harus memulai tracking ke Tanjung Layar dengan jarak tempuh sekitar 1 jam. Pohon-pohon dengan umur puluhan bahkan ratusan tahun pun menemani perjalanan kami, hingga kami bertemu dengan pohon yang akarnya begitu besar sampai-sampai membentuk trowongan dan bisa kami lewati. Jejak tapak banteng pun terlihat  di jalur yang hendak kami lewati, tak lama kemudian mercusuar baru pun terlihat dan kami rehat sejenak. Karena kami tidak membawa persedian air minum, terpaksa kami minum air dari tampungan yang berada di dekat mercusuar, dari pada kami harus menahan haus dan dehidrasi.



Titik 0 Km Tanjung Layar ternyata tidak jauh dari mercusuar baru, hanya berjarak sekitar 10 menit saja kami sampai di Tanjung Layar. Rumput hijau yang begitu tebal menyambut kedatangan kami, begitu juga dengan suara debur ombak pantai selatan yang menghantam karang-karang besar. Pemandangan yang sangat indah, tebing-tebing karang menjadi pelindung dari terjangan ombak pantai selatan sekaligus menjadi latar belakang Tanjung Layar. Tidak lupa untuk mengambil foto sejenak di karang-karang hingga tebing. Sayang nya kami tidak membawa perbekalan, untuk mengisi tenaga setelah tracking tadi sambil menikmati pemandangan. Kami pun terpaksa kembali lagi menuju Cibom karena merasa lapar dan haus. Haha.



Sampe di Cibom, kami diangkut kembali oleh speedboat, kemudian kami menuju spot snorkeling yang bereda di sebalah kiri dermaga. Ternyata ketika kami sampai di kapal, makan siang pun sudah di masak oleh awak kapal, ikan nya pun hasil mancing barusan katanya. Sambil menyantap makan siang kami pun berangkat ke spot snorkeling. Setelah sampai, kami pun langsung terjun bebas ke air, ikan-ikan pun siap menyambut kami, begitu juga dengan terumbu karang yang berwarna-warni menambah keindahan alam bawah laut. Kekecewaan kemarin pun terbalaskan dengan keindahan alam bawah laut disini. Hampir semua teman-teman terjun bebas kedalam air untuk melihat keindahan spot snorkeling pulau peucang ini. Setelah 1 jam ber snorkeling, dengan berat hati kami harus kembali ke cottage untuk persiapan pulang ke Tamanjaya lagi.  Dengan berat hati juga kami meninggalkan Pulau Peucang, meninggalkan pasir putihnya, meninggalkan jernih pantainya, meninggalkan  satwa liarnya dan segala keindahan alamnya. Perjalanan pulang kami pun dihiasi senyum bahagia dan tawa ceria yang pada akhirnya telah mengenal lebih dalam keindahan Pulau Peucang. Kapal kami menepi di  Tamanjaya sekitar pukul 18.00 WIB, dan langsung menuju rumah Pak Komar untuk menyelesaikan pembayaran sewa kapal. Pak Komar dengan baik hati menyediakan Mobil Elf carteran yang siap mengantar kami ke Serang dengan harga 500 ribu. Karena kalau di Tamanjaya ini mobil angkutan umum hanya beroperasi pada jam 06.00 WIB dan jam 13.00 WIB dengan jurusan Serang.



Setelah semuanya siap, kami pun pamit ke Pak Komar, dan siap menuju Serang, tentunya siap menerima dan menghadapi rusaknya jalan, gelapnya jalan, badan yang terguncang hingga kepala pusing. Apapun gejala dan akibatnya kami siap menghadapi dengan tubuh yang sudah lelah dan tidak berdaya ini. Semoga selamat sampai tujuan adalah doa kami. Alhamdulillah kami sampai di Kota Serang pukul 00.15 WIB, dan kami pun berpisah titik awal kami berjumpa, terimakasih kawan atas keikutsertaan dan kebersamaan hari kemarin, semoga kalian semua senang.

Rabu, 17 April 2013

Keindahan Alam Pulau Oar



Pagi itu, hujan rintik masih mengguyur belahan Pulau Jawa bagian paling barat. Pohon-pohon  besar yang menjulang tinggi dan mengelilingi bangunan ini memberikan asupan udara yang kaya dengan oksigen. Kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon Seksi 3 merupakan tempat saya beristirahat selama 2 malam kebelakang. Kantor disini masuk dalam kawasan TNUK dan dikelilingi oleh pohon-pohon yang begitu besar.  Di sekeliling nya juga terdapat penangkaran kupu-kupu, penangkaran angrek, penangkaran rusa dan penangkaran tumbuhan obat.  Bahkan pagi itu terlihat segerombolan tupai yang meloncat dari dahan pohon satu ke dahan pohon yang lainnya.

Tanggal  13 April 2013, tepat hari sabtu, saya berencana ke Pulau Oar, yang dimana pada hari sebelumnya saya sudah mengunjungi nelayan di desa Sumberjaya, dan menanyakan untuk keberangkatan ke Pulau Oar. Saya pun telah dipertemukan oleh nelayan yang bernama Pak Saprudin oleh Ibu Jannah yang punya warung di pinggir pantai. Perjanjian pun tarjadi, Hari sabtu pukul 07.00 WIB saya akan di antarkan oleh Pak Saprudin ke Pulau Oar dan kemudian dijemput kembali pada pukul 12.00 WIB. Setelah hujan mereda, saya berangkat tempat kapal nelayan bersandar, tepatnya di gang depan kantor UPT pendidikan kecamatan Sumur yang berada di pasar sumur. Benar saja Pak Saprudin sudah menunggu saya, dan saya langsung memarkirkan motor kemudian menuju perahu sampan milik Pak Saprudin.  Perahu sampan ini memiliki motor berkukuatan 15 pk, jadi tidak begitu cepat, akan tetapi letak pulau Oar yang cukup dekat dengan daratan jadi dapat bisa ditempuh dengan waktu kira-kira 15 menit.  Oiyah beiaya penyebrangan untuk satu orang kisaran 80 – 100 ribu, kalo banyakan sih bisa sampe 200 ribu seharian, dan itu pun tergantung masing-masing nelayan yah.

Baru sebentar berlayar pulau Oar pun langsung terlihat, memang ketika di daratan kita tidak bisa melihat pulau Oar karena terhalang oleh pulau Sumur. Pasir putih yang terlihat dari kejauhan terlihat cukup menggoda, dan benar saja ketika pertama kali datang menginjakan kaki di pasir putihnya, terasa sangat lembut di kaki. Ini merupakan pasir putih yang paling lembut yang saya temui di pantai Banten. Pulau Oar ini tidak berpenghuni, akan tetapi dalam pengelolaan nya dikelola oleh PT. Paramount, yang mengelola Pulau Umang juga. Di Pulau Oar ini ada petugas dari Pulau Umang yang setiap hari nya menjaga, disini juga ada fasilitas seperti snorkeling, diving, banana boat dan jetski yang hanya ada pada hari tertentu saja, seperti weekend dan hari libur nasional. Jangan takut ga bisa mandi, disini disediakan kamar mandi yang airnya tawar, begitu juga ada semacam bale-bale untuk sekedar bersantai dan meneduh ketika hujan.  Karena pengelolaannya di kelola oleh pihak Pulau Umang, jadi untuk pengunjung yang datang ke Pulau Oar ini dikenakan biaya sebesar 50 ribu per orang, tetapi kata Pak Saprudin jangan lupa untuk kasih uang rokok ke petugas disana. Sebenernya Pulau Oar ini cocok untuk para backpacker yang ingin menikmati alam pantai yang begitu indah, wisata bawah laut yang begitu cantik, udara nya pun terasa segar untuk dihirup. Anda pun bisa bermalam di sini, dengan mendirikan tenda-tenda dan jangan lupa untuk ijin terlebih dahulu ke petugas disana, dan juga bawa lotion anti nyamuk yah.

Pertama kali dateng kesini pun saya langsung di sambut oleh pelangi yang menghiasi langit diatas Pualu Oar. Akhirnya “Pelangi Saat Badai Pergi” yang diharapkan muncul juga, karena mengingat hari kemarin itu seharian hujan terus sampai menjelang pagi. Sesampainya di Pulau Oar, saya pun ditinggal oleh Pak Saprudin, alhasil saya hanya sendirian di pulau ini. Pertama-tama saya melihat keadaan sekitar pulau, sekalian cari spot snorkeling. Sekedar menikmati indah nya alam Pulau Oar, sambil menyantap nasi uduk yang di beli di pertigaan sebelum ke pasar Sumur. Setelah makan, saya pun langsung renang dan ber-snorkeling ­ria walaupun sendirian, tapi tak apalah, yang penting masih bisa ditemani ikan-ikan cantik dibawah sini, bahkan ikan Nemo pun cukup banyak disini. Cukup lama waktu yang dihabiskan untuk bermain-main dengan ikan ini.  Terumbu karang disini cukup bagus, dan kita tidak perlu jauh-jauh ketengah laut untuk bisa melihat ikan-ikan dan terumbu karang nya. Cukup berenang kira-kira 5-10 meter saja dari bibir pantai. Memang keadaan waktu itu sedang terjadi pasang air laut, dan sebelumnya juga untuk daerah Sumur ini telah dilanda hujan hampir selama satu minggu, yang menyebabkan air di pulau Oar agak keruh sedikit waktu snorkeling. Tapi saya sendiri jujur, masih bisa melihat ikan-ikan dan terumbu karang dengan begitu jelas, dan air laut yang dilihat dari atas permukaan pun terlihat biru jernih. 

Sekitar pukul 09.30 WIB datang pengunjung lain dari pulau Umang dengan menggunakan fast boat. Katanya kalo berangkat dari Pulau Uamng ke Pulau Oar dikenakan biaya 50 ribu per orang nya. Sebagian dari pengunjung yang datang juga langsung mencoba ber snorkeling. Saya pun kembali ke permukaan untuk mencoba mengambil gambar dari keindahan Pulau Oar dan kemudian ber snorkeling kembali hingga tak terasa tinggal saya lagi yang sendirian, pengunjung lain pun sudah kembali pulang dan ternyata waktu pun sudah menujukan pukul 11.50 WIB, yang berarti saya juga harus bersiap-siap untuk dijemput. Dari kejauhan pun terlihat perahu Pak Saprudin sedang menuju pulau Oar, ketika sampai saya pun pamit ke petugas disana, dan siap kembali ke daratan.

Overall wisata ke Pulau Oar ini sangat menarik, pulau yang menyajikan keindahan alam pantai nya serta bawah laut nya ini patut jadi pertimbangan wisatawan yang sedang mencari alternative liburan. Rute yang di ambil apabila melancong dari Jakarta yaitu, masuk toll Jakarta-Merak, exit Serang Timur, ke arah Pandeglang, Labuan, Cibaliung, dan sampai di Pasar Sumur. Apabila ingin menggunakan angkutan umum, bisa ambil jurusan Serang, kemudian turun di Terminal Pakupatan, dilanjutkan naik mobil elf (ps) yang kearah Sumur, kalo engga ada naik mobil Bis arah Labuan dan turun diterminal Labuan, lalu naik mobil elf arah sumur. Estimasi naik angkutan umum kira-kira hanya menghabiskan tidak lebih dari 50 ribu untuk sekali perjalanan. Biaya perahu tidak lebih dari 200 ribu untuk rombongan. Di Pulau Oar juga petugas menyediakan alat snorkeling dengan biaya 75 ribu. Sabelum ke Gili Trawangan, coba dulu ke Pulau yang satu ini, maka akan terlihat sedikit kesamaan diantara keduanya. Cukup menarik bukan? Kalau kalian kesana, jangan lupa sampaikan salam saya pada ikan Nemo disana yah…

Sabtu, 16 Maret 2013

Penasaran Dengan Pulau Panjang

Selasa, 12 Maret 2013, bertepatan dengan hari Nyepi bagi umat Hindu, nyepi pun terasa sampai ke rumah saya, dimana hanya ada saya dan Fahri (adik saya), sisa nya (nyokap, bokap, Fikri) sedang keluar dari tadi pagi. Mulai terasa bosan juga dirumah terus, akhirnya saya putuskan untuk keluar rumah juga dengan tujuan Karangantu lanjut kerumah temen di Cilegon. Persiapan perlengkapan pun sudah disiapkan dan sekitar pukul 10.15 WIB saya berangkat menggunakan motor walaupun cuaca pada saat itu hujan lokal, dan benar saja dari arah Kaligandu sampai Karangantu cuaca nya sangat panas menyengat.

Sesampainya di Karangantu, saya langsung menuju ujung muara sungai untuk mencari info perahu penumpang yang menuju Pulau Tunda dan Pulau Panjang. Setelah banyak bertanya didapatlah informasi bahwa perahu penumpang yang menuju Pulau Tunda hanya ada pada hari Senin, Rabu dan Sabtu dengan tariff sekitar Rp. 15.000, sedangkan ke Pulau Panjang hampir setiap hari dengan tariff sekitar Rp. 7.000. Kebetulan setelah bertanya, ada perahu penumpang yang akan berlayar ke Pulau Panjang. Ragu juga untuk berangkat sekarang juga ke Pulau Panjang, karena masih belum tau keadaan disana bagaimana. Sontak teringat temen saya (Harry) yang tinggal di sekitar Karangantu untuk bertanya tentang keadaan Pulau Panjang. Saya pun langsung menelponnya dan menghampiri ke rumah nya, karena katanya perahu penumpang akan berangkat sekitar jam 2. Ternyata setelah ngobrol-ngobrol, si Harry pun belum pernah ke Pulau Panjang dan tidak tau bagaimana keadaan disana. Menambahlah keraguan di diri saya, sehingga saya pun harus melihat peta Pulau Panjang melalui iPhone untuk mengembalikan keteguhan hati saya. Memang benar Pulau Panjang itu cukup luas kalau kita explore dengan jalan kaki, apalagi kalau kita belum tau keadaan disana. Menurut saya pulau ini lebih enak nya di-explore dengan menggunakan sepeda. Coba pada saat itu juga saya bawa sepeda, pasti tanpa ragu saya pun langsung naik ke perahu.Apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur, saya pun kesini bawa motor, yasudah saya mantapkan hati untuk berangkat ke Pulau Panjang setelah menunaikan sholat dzuhur.

Setelah sholat, saya pun dianter Harry ke tempat perahu penumpang tadi, dan ternyata perahu nya tidak ada, sudah berangkat. Wah memang bukan waktu nya untuk berangkat. Kembali saya antarkan Harry kerumah nya, terimakasih yah kawan atas jamuan dan informasi nya. Penasaran apa yang diinfokan Harry mengenai wisata ke Pulo Lima dari Karangantu, saya pun mencari office nya yang kata nya terletak sebelum tempat pelelangan ikan.  Benar saja ketemu nih office nya, langsung saya tanya-tanya dari A sampe Z mengenai Pulo Lima. Pulo Lima ini terletak tidak jauh dari muara sungai Kangantu ini, hanya sekitar 15-20 menit naik perahu. Biaya per orang nya Rp. 70.000 ribu (minimal 10 orang) sudah mendapat akomodasi pulang-pergi, banana boat, snorkeling & mincing mania. Adapun fasilitas diluar biaya tersebut yaitu, areal camping, gazebo-gazebo di pinggir pantai dan makan siang. Setelah mendengar cerita yang ditawarkan oleh Bapak Opik jadi tertarik juga untuk ke Pulo Lima, sayang saya hanya satu orang saja. Tapi jangan khawatir, 1 orang pun bisa berangkat ke Pulo Lima dengan catatan kalian harus datang ke office ini pagi-pagi sekitar pukul 09.00 WIB untuk menanyakan ada tidak kapal nelayan yang berangkat.  Kalau misalkan ada, silahkan kalian bernego dengan nakhoda nya. Tentunya dengan ketentuan kalian harus di jemput kembali pada sore hari nya.

Ketika saya bercerita keluhan saya yang tidak jadi berangkat ke Pulau Panjang karena ketinggalan perahu, Bapak Opik pun langsung memberitahu ke saya bahwa ada perahu terakhir biasa nya di sekitar tempat pelelangan ikan, karena dikhawatirkan air surut di muara nya maka si perahu penumpang dimajukan hingga mendekati mulut muara. Saya pun pamit dan langsung menuju tkp, Alhamdulillah memang benar masih ada perahu penumpang yang menuju Pulau Panjang, akan tetapi perahu tersebut hendak berlayar dan salah seorang anak buah kapal yang melihat saya sedang berlari ke arah kapal langsung mencoba menarik kapal tersebut kembali. Pada saat itu pula keraguan saya naik drastis, karena kalau jadi berangkat, motor dititipkan dimana?.Perahu pun kembali bersandar dan mau menunggu saya sebagai penumpang terakhir, saya pun kembali ke motor dan mencari tempat penitipan motor, hingga pada akhirnya seorang satpam di pos masuk gerbang mau menerima titipan motor. Diantarkan lah saya kembali ke perahu, dan benar saja perahu masih menunggu saya sebagai penumpang terakhir.

Sekitar pukul 14.30 WIB perahu tujuan Pulau Panjang berangkat.Perahu yang berisikan hampir seluruh warga Pulau Panjang dan beberapa kebutuhan warga untuk selama di Pulau pun akhir nya berangkat. Jika dilahat-lihat perahu penumpang ini adalah perahu yang sebelumnya bersandar di pos keberangkatan, perahu yang dari awal saya mau menaikinya. Sedikit malu juga untuk menaiki perahu ini, karena dari awal sekitar pukul 12.00 WIB saya sempat bertanya-tanya ke penumpang yang sudah menunggu cukup lama tentang keberangkatan perahu ini. Yang pada akhirnya saya malah menyia-nyiakan waktu untuk mencari informasi di rumah Harry. Tak apalah, yang penting pada akhirnya saya bisa berangkat ke Pulau Panjang, itung-itung menghilangkan rasa penasaran saya.

Akhirnya perahu pun bersandar sekitar pukul 15.00 WIB, saya pun bingung harus ke mana dan mulai dari mana. Sebelumnya saya lihat di peta ada juga sebuah desa di bagian utara, saya putuskan untuk tetap berjalan ke arah utara. Melewati rumah-rumah warga yang rata-rata sudah terbuat dari pondasi semen dan ada juga yang sebagian sudah di kramik, jalan pun sudah sebagian di paving blok.  Karena disini hanya ada listrik pada saat malam hari, jadi rata-rata warga disini menghabiskan waktu siang nya dengan bercengkrama dengan keluarga dan tetangga di depan rumah. Sambil berjalan saya pun mencoba liat kanan-kiri untuk mencari warung nasi, karena dari tadi siang belum makan. Ternyata disini masih susah ditemukan warung nasi, tak terasa saya berjalan melewati Kampung Peres. Ketika diliat di GPS, ternyata cukujp jauh juga dari lokasi saya berada untuk sampai kampung  di utara yaitu Kampung Baru. Yang saya heran, ketika saya sedang berjalan Dengan kaget dan rasa heran, saya hanya bisa terdiam dan membiarkan mobil itu lewat, setelah jauh barulah sadar kalo saya membutuhkan tumpangan, haha. Tak lama kemudian, lewatlah warga sekitar membawa motor dan menawarkan saya jasa ojeg, dengan kelelahan saya pun terima jasa ojeg sampai ke pantai yang ada di utara dengan biaya Rp. 5.000.

Sesampainya di pantai utara, rasa penasaran saya pun terjawab.Ternyata pasir putih yang saya lihat lewat GPS di iphone itu ternyata hanya sekumpulan batu-batu karang yang sudah berwarna putih yang telah menutupi pasir pantai. Pantai disini pun sebagian besar berupa karang, tidak ada sama sekali pantai dengan hamparan pasir putih. Berjalan menelusuri bibir pantai kearah timur  pun yang ditemui hanya hamparan karang. Ditengah-tengah penelusuran, saya bertemu dengan ibu-ibu warga Kampung Baru yang sedang mencari rumput laut, katanya rumput laut yang dicari cukup susah, dan hasilnya pun buat di konsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Ketika ditanya letak pantai pasir putih yang bisa berenang,  mereka pun menjawab tidak ada, yang ada hanya hamparan karang saja. Beginilah keadaan Pulau Panjang, walaupun tidak  bisa berenang, tapi rasa pensaran saya pun terjawab. Sampai pukul 17.00 WIB saya menelpon Kang Sobri (ojeg yang mengantarkan saya) untuk minta dijemput.Ternyata yang datang adalah sodara nya Kang Sobri, yaitu Kang Nafik. Sama Kang Nafik inilah saya diantar menuju Kampung Pasir Putih untuk mengisi perut yang dari tadi siang belum sempat terisi. Disini memang tidak ada warung nasi a.k.a warteg, hanya ada warung yang jual gado-gado atau ketoprak, itupun mungkin hanya ada di Kampung Pasir Putih. Setelah makan, lalu ngobrol sama Kang Nafik masalah penginapan, dengan berbaik hati Kang Nafik pun menawarkan saya untuk tidur dirumah nya, karena kebetulan hanya ada mertua nya dan anak Kang Nafik saja. Di antarlah saya kerumah Kang Nafik untuk magriban sejenak.

Setelah magriban, mengobrol banyak dengan orang mertua nya  yang menurut saya tau banyak keadaan sosial, politik, serta potensi yang dimiliki oleh Pulau Panjang ini.  Sampai saya diajak mau ‘ngobor’ gurita, akan tetapi Kang Nafik mengajak saya ke dermaga di Kampung Pasir Putih untuk melihat yang mincing ikan disana. Sampai di dermaga, memang banyak juga orang mancing, jika dilihat rata-rata mereka mendapat cumi-cumi kecil. Saya menghabiskan malam disini, karena memang tidak ada tempat menarik lagi di Pulau Panjang ini. Di dermaga ini kita bisa melihat lampu-lampu pabrik disebrang sana tepatnya disekitar Bojonegara yang menyala cukup banyak dan terlihat indah dari kejauhan. Dermaga ini tempat bersandarnya perahu penumpang dari arah Bojonegara, jadi selain dari pelabuhan Karangantu, kalian bisa juga menuju Pulau Panjang ini dari Pelabuhan Bojonegara. Suasanan malam itu sangat tidak cukup membuat saya tenang, bukan karena suasana alam nya, akan tetapi keributan yang di timbulkan oleh seorang anak  kecil yang bener-bener sangat menjengkelkan. Kang Nafik banyak bercerita tentang keadaan masyarakat di Pulau Panjang, yang salah satunya yaitu jika ada rumah di pulau ini yang cukup bagus (sudah kramik dan tembok semen bercat) itu merupakan salah seorang keluarga nya kerja sebagai TKI ke luar negeri. Termasuk Istri Kang Nafik yang bekerja ke Arab. Kebanyakan orang yang punya di pulau ini bekerja sebagai TKI, cetusnya. Selanjutnya, katanya listrik di pulau panjang ini memang benar hanya menyala pada pukul 18.00-06.00 WIB dengan menggunakan tenaga disel, tetapi ada bantuan baru yaitu berupa pembangkit listrik tenaga surya, yang sudah berjalan 1 bulan. Listrik tenaga surya ini dapat menghidupkan listrik rumah-rumah warga pada siang hari yang diberikan secara gratis, akan tetapi kedepannya nantinya akan dipungut biaya. Obrolan demi obrolan berlalu hingga pukul 21.30 WIB, kita pun pulang kerumah untuk beristirahat, dikarnakan esok pagi saya harus berlayar kembali pulang ke Pulau Jawa.

Rabu, 13 Maret 2013 sekitar pukul 7.30 WIB saya di antarkan ke dermaga di Kampung Peres, katanya akan ada perahu keberangkatan ke pelabuhan Karangantu sekitar pukul 8.00 WIB.  Setiba nya di dermaga, saya pisah dengan Kang Nafik dan anak, tidak lupa memberi sedikit upah terimaksih saya atas waktu dan tempat menginapnya. Sekitar pukul 8.30 WIB perahu pun berlayar menuju  pelabuhan Karangantu dengan tiket sebesar Rp. 7.000 per-orang.  Hingga sampai di pelabuhan Karangantu sekitar pukul 9.00 WIB dan langsung mengambil motor  di pos satpam dilanjutkan perjalanan pulang. Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat. Rasa penasaran saya pun terjawab semua, itung-itung tambah pengalaman, heheh. Mungkin next trip  ke Pulau Tunda deh.

Jumat, 09 November 2012

TRIP BALI PART 2



Jum’at 9 November 2012 tepat pukul 7.00 WITA kami siap berangkat menuju Krisna. Dimana sebelumnya kita telah membuat kesepakatan dengan yang lain bahwa hari ini kita harus berangkat tepat waktu yaitu jam 7. Karena di Krisna tidak mungkin belanja dengan waktu cuman 1 jam saja. Sehingga kami pun terpaksa harus bangun cepat agar tidak telat. Setelah kami semua sudah menaiki bis, bis pun berangkat menuju Krisna. Tampak terdengar membosankan bagi Saya mendengar Krisna, karena setiap ke Bali pasti mampirnya kesini untuk beli oleh-oleh, dan keadaan mood Saya disini sedang males beli oleh-oleh. Alhasil sesampainya di Krisna, Saya pun hanya bisa keliling nemenin si Ruby belanja oleh-oleh, teman-teman yang lain pun tampak begitu semangat mencari barang buruan nya untuk buah tangan orang-orang di rumah. Waktu belanja di Krisna pun sudah usai, saatnya kita bergegas memasuki bis dengan tujuan wisata selanjutnya adalah Tanjung Benoa. Tanjung Benoa berada di kawasan private Nusa Dua, karena di Nusa Dua ini banyak berdiri hotel-hotel mewah dan kawasan ini biasa digunakan rapat penting oleh pejabat-pejabat dalam negeri maupun luar negeri. Dulu kawasan Nusa Dua ini jarang penduduk, karena kontur tanah nya kapur sehingga cukup sulit untuk mendapatkan air bersih di kawasan ini.  Karena Bali membutuhkan tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat penting, tertutup dan aman. Maka Nusa Dua dibangun sedemikian rupa sehingga menjadi sekarang ini.


Sesampainya di Tanjung Benoa, Nusa Duasekitar pukul 11.00 WITA, kami langsung memasan tiket glass bottom untuk ke pulau penyu. Tiket glass bottom ini seharga 50 ribu rupiah per orang, dan akan berangkat jika kuota sudah mencapai 10 orang. Akan tetapi kuota kita hanya 9 orang pada saat itu, di tambah satu orang lagi dari pihak travel di detik-detik terakhir, jadi yang berangkat ada Saya, Ruby, Rizkar, Ade, Adit, Nita, Tiyar, Gober, Linda & Mas travel. Mungkin sepertinya kami tidak akan sholat jum'at bagi cowo-cowo nya, karena kita baru berangkat ke pulau penyu nya sekitar pukul 11.30 WITA. Ini merupakan ke tiga kali nya Saya ke pulau penyu, tapi Saya ambil tempat yang berbeda kali ini, yaitu penangkaran penyu yang sebelah kanan jika kita pertama kali datang.  Jadi cukup berbeda pengalaman kali ini, di tempat ini hampir semua binatang kami pegang sambil di foto, seperti elang, iguana, penyu, kalong & ular. Jika ditempat sebelahnya kita hanya pegang penyu, ular, dan burung Rangkong. Hampir semua binatang kami pegang dan sambil berpose untuk difoto, sampai tak terasa waktu sudah lebih dari 1 jam. Kami pun kembali ke Tanjung Benoa karena di panggil si mas travel nya untuk segara pulang. Kami pikir mungkin kami akan terlambat lagi naik ke bis, karena yang kami lihat, teman-teman yanga lain tidak ikut ke pulau penyu. Ternyata benar saja, mereka sudah selesai makan dan kami yang terakhir makan, dan setelah itu kami pun berangkat menuju Uja Mandala untuk beribadah. Uja Mandala adalah tempat dimana semua tempat peribadatan umat manusia ada disana dan saling berdampingan. Ini menandakan bahwa walaupun kita berbeda umat harus hidup rukun dan saling berdampingan. Setelah beribadah di Uja Mandala kami berangkat menuju Dreamland, atau yang dulu disebut dengan New Kuta Beach. Dreamland ini masuk dalam kawasan Tomy Soeharto, karena sebagian tanah di Nusa Dua ini sudah dimiliki oleh Tomy Soeharto ketika masa kepemimpinan Ayahnya. Di dekat Dreamland ini juga tedapat kawasan golf terluas di Bali. Walaupun  daerah Nusa Dua ini kontur tanahnya berupa tanah kapur, akan teteapi Tomy menyulapnya dengan hamparana rumput hijau yang luas. Sungguh luar biasa apa yang telah dilakukan Tomy itu, dan dari situlah merangsang pertumbuhan pembangunan di kawasan Nusa Dua.
Sekitar pukul 15.00 WITA kita sampai di Dreamland. Terlihat perbedaan tempat parkir mobil, yang dimana jika dulu jarak dari tempat parkir masuk ke pantai Dreamland harus menuruni banyak anak tangga dan cukup jauh, sekarang dibuat tempat parkir yang lebih dekat dari kawasan pantai. Pada saat itu memang keadaan disana cukup panas, sehingga membuat malas teman-teman dan enggan untuk ke berjalan-jalan di pantai. Tapi tidak untuk Saya, Ruby & Ade, kami bertiga berjalan menyusuri bibir pantai sambil foto-foto, pemandangan dan keindahan pantai lah yang membuat kami untuk terus berjalan dan foto. Saking tak sadar akan keindahan pantainya, kami tengok kebelakang tak nampak satupun mahasiswa dari Untirta yang terlihat, lalu kami putuskan untuk kembali ke Bis, karena ga enak kalo nanti  kita telat lagi naik Bis nya. Ketika berjalan hendak ke Bis kita melihat seorang bule perempuan yang sedang berjemur dan diminta foto bareng wisatawan lokal, sungguh menarik perhatian, karena memang bule nya itu cantik, sampai kita pun ingin foto bareng dengannya, akan tetapi kita harus lekas ke Bis dan ga boleh telat. Ternyata eh ternyata pas mau sampe parkiran masih banyak mahasiswa yang sedang berbelanja dan katanya masih ada juga yang di pantai. Memang penyesalan mah di akhir, heheh.

Setelah menunggu teman-teman yang lain cukup lama, akhirnya kita meninggalkan Dreamland dan hendak menuju GWK atau Garuda Wisnu Kencana. Sekitar 15 menit dari Dreamland kita sudah sampai di GWK. Disini kita akan melihat rancangan patung Garuda Wisnu Kencana yang baru terbuat hanya beberapa bagian. Karena rencana nya disini akan dibuat patung Garuda Wisnu Kencana yang kira-kira tinggi nya sekitar 145 meter dan ditambah lagi posisi nya yang berada di 263 m di atas permukaan laut yang jika kelak nanti rampung akan melebihi patung Liberty di Amerika, dan dapat dilihat dari radius sekitar 20 Km. Proyek ini belum rampung betul, karena hanya baru terbuat bagian badan dan tangan Dewa Wisnu dan bagian Kepala Garuda. Sekitar pukul 17.00 WITA kita sampai di GWK, dan langsung masuk. Untuk memasuki kawasan GWK ini diperlukan tiket seharga Rp. 25.000,- untuk dewasa. Di GWK ini kita akan melihat tebing-tebing batu kapur yang dibentuk sedemikian rupa. Sungguh luar biasa, bisa dibayangkan nanti jika proyek mega patung GWK ini sudah jadi, pasti tempat ini akan ramai dipadati wisatawan. Setelah kita berkeliling melihat mega proyek patung GWK, lalu kita memasuki teater terbuka untuk menonton pertunjukan tentang kisah Garuda dan Dewa Wisnu. Hingga menjelang magrib pertunjukan selesai kita beranjak pergi ke Kampung Kute yaitu toko oleh-oleh sekaligus tempat makan. Ada yang unik dari tempat makan ini, karena tepat di depan tokonya terdapat patung hias berupa alat reproduksi pria yang ukurannya cukup besar bahkan beberapa dari mahasiswa menyempatkan diri untuk berfoto di patung tersebut. Di Kampung Kute ini tempat makan nya enak ada live music nya, jadi jika ada yang mau menyumbang suara silahkan. Disini juga kita merasa senang, karena makanan nya cukup enak, yah lumayan memanjakan lidah, haha.

Setelah menikmati sajian makan dan mendengarkan sumbang suara dari teman mahasiswa yang menurut Saya enak di dengar lalu kita kembali hotel. Saya niat kalo nanti sampe hotel mau bernang di kolam renang hotel, karena malam ini adalah malam terakhir bagi Saya, Ruby, Rizkar dan Adit berada di hotel ini dan malam terakhir bersama teman-teman mahasiswa. Sesampainya di hotel, Saya membicarakan masalah rencana esok pagi hingga tanggal 14 mendatang, karena rencana kita esok pagi sudah berpisah dengan teman-teman yang lain. Di tengah perbincangan kita, Adit mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut dengan Saya, Ruby & Rizkar yang rencana nya akan pulang tanggal 14, memang Adit juga sudah pesen tiket pesawat untuk kepulangan tanggal 14, akan tetapi di bersikukuh untuk pulang besok dengan rencana tiket yang sudah di beli di reschedule keberangkatannya. Jadi pada saat itu juga Adit dan Tiyar keluar hotel untuk mencari agent tiket pesawat. Tinggal Saya, Ruby & Rizkar yang membuat rencana buat esok. Jadi ada 2 rencana, pertama, kita aka  tinggal di Bali sampe tanggal 14, yang kedua, kita akan berangkat ke Lombok denga  budget yang minim. Seperti diketahui, kita kekurang 1 personil yang akan berangkat ke Lombok, jadi kalo kita ‘kekeh’ ingin berangkat ke Lombok, pasti kita disana akan kekurangan. Sedangkan kalo kita untuk tetap tinggal di Bali tepatnya di jalan poppies lane Kute, maka kita akan merasa tercukupkan untuk masalah hidup sampe tanggal 14 kedepan. Setelah lama berdiskusi dan membuahkan hasil, akhirnya kita memilih untuk tetap tinggal di Bali sampe tanggal 14 kedepan, dan kita pun menyuruh Adit yang sedang keluar hotel untuk mencarikan penginapan murah di jalan poppies. Saya pun merasa ada yang ngeganjel di hati ini, karena rencana ke Lombok yang dari awal Saya rencanakan bareng Ruby, Rizkar & Adit tidak jadi. Apa kata teman-teman dan orangtua Saya kalo ga jadi ke Lombok. Daripada kepikiran terus, Saya pun ke bawah hendak berenang di kolam renang hotel. Rizkar dan Ruby pun datang menyusul, begitu juga teman-teman yang lain dari semester VII. Semakin malam semakin rame di kolam renang ini, kita mengadakan party kecil untuk hari terakhir kita di hotel ini, walaupun hanya Saya aja yang renang sendiri dan yang lain sedang asik di pinggiran kolam dengan beer nya. Ditengah tawa kita, dateng si Adhar yang menurut gw orang ‘terkonyol’ di Fisip. Mulai lah kami sambut dengan arak Bali, sampai dia hilang kendali. Mungkin dia meresa jadi bahan tertawaan kami, dia pun pergi dengan berdalih ada yang telpon. Hingga lama dia tak kembali, kami tetap lanjutkan malam dengan candaan. Sampai larut malam, sampai beer habis, lalu kita kembali ke kamar masing-masing. Ketika Saya hendak ke kamar, ketemu Adit & Tiyar di lobby hotel. Katanya dia tidak dapet tiket pesawat buat besok pulang, dan Saya pun coba kasih solusi yang terbaik, yaitu besok pagi setelah pisah dengan rekan-rekan mahasiswa kita berangkat ke Ngurah Rai untuk beli tiket pesawat buat si Adit.  Rencana tiyar yang mau pulang besok naik pesawat ternyata gagal, karena dia merasa uangnya tidak akan cukup buat beli tiket pesawat. Setelah berbincang-bincang di lobby hotel, Saya pun  kembali kekamar untuk membicarakan fixasi untuk rencana besok.

Setelah mandi dan beberes barang bawaan, Saya, Ruby & Rizkar mulai membicarakan rencana besok. Untuk peribadi sih, Saya merasa kalo rencana ke Lombok ini gagal, maka apa kata teman-teman dan orangtua Saya, pasti Saya merasa malu dan berat hati. Apa yang Saya rasakan ternyata sama apa yang Rizkar rasakan. Setelah lama berdiskusi dengan sedikit ketegasan Saya pastikan budget dari masing-masing orang. Saya sisa uang 700 ribu, Ruby 500 ribu dan ternyata Rizkar mau menyumbang 1 juta. Wow, ini sih sudah dapat dipastikan bisa berangkat ke Lombok. Akhirnya Rizkar dengan rasa persahabatan dan persaudaran yang tinggi mau mengeluarkan budget terakhirnya. Kata Rizkar “apa sih yang ga buat temen mah”, itu lah kata-kata yang biasa diucapkan didalam persahabatan kami, sehingga diantara kami tidak ada rasa perhitungan sama sekali, kami semua sama, susah senang kami selalu lewati bersama. Satu yang mungkin bisa di ambil dari persahabatan kami, yaitu jangan pernah saling perhitungan, kalo lagi ada uang ya kami berbagi, kalo tidak ada uang pasti sahabat kami akan memberi. Akhirnya, dengan niat, dengan tekad bulat, dengan budget kurang, dengan ke-nekat-an, Saya, Ruby dan Rizkar akan berangkat ke Lombok esok hari. Ya, mari kita bersulang kawan...

Sabtu, 10 November 2012, sekitar pukul 7.30 WITA, kita bertujuh (Saya, Adit, Ruby, Rizkar, Ade, Tiyar & Nita) untuk pertama kalinya sarapan di Hotel. Terpaksa Saya lakukan karena untuk mengirit biaya pengeluaran. Walaupun makanannya sedikit kurang enak dan begitu juga teh manisnya, tapi kami tetap harus menghabiskannya. Setelah sarapan, Saya, Adit, Ruby & Rizkar pamit sama dosen-dosen dan teman-teman yang lain untuk berpisah. Mas Rizki dari pihak travel pun bersedia untuk anter kami ke bandara Ngurah Rai, tentunya dengan biaya bensin dari kami. Ada sedikit trouble di detik terakhir keberangkatan kami, yaitu ketika Saya periksa dompet dan ternyata dompet di kantong Saya tidak ada, kemudian Saya coba untuk cari di koper sampai ke kamar hotel, dan ternyata tidak ada juga. Ketika Saya coba mengingat-ingat, dan benar saja dompet itu ada dibalik tumbuhan yang berada di kamar hotel bawah, yang mana semalem tempat ngobrol Saya. Alhamdulillah, dompet sudah ketemu, lalu kami pun berangkat ke Ngurah Rai. Ada kejadian lucu tadi ketika Saya dan Ruby mencari dompet ke kamar hotel tempat Saya tidur dan ternyata tidak ada, lalu Saya kembali ke bawah dan menemukan dompet itu. Akan tetapi Ruby belum juga kembali ke mobil, di telpon ga di angkat-angkat, hingga Saya kesal dan naik kamar hotel yang berada di lantai 3, dan ternyata si Ruby lagi ‘b.a.b’, kan konyol disaat panik dan genting malah ke kamar mandi, hahaha dasar Pak Kandung nih (Ruby di identikan mirip sama Pak Kandung selaku PD II di Fisip oleh teman satu jurusan).

Ditengah perjalanan, mas Rizki selaku pihak travel yang berniat akan mengantarkan kami ke Ngurah Rai ternyata berdalih, dan katanya cuma bisa mengantarkan kami sampai Terminal Ubung saja. Sesampainya di terminal Ubung, lalu kami mencari taksi untuk berangkat ke Ngurah Rai, akan tetapi seorang sopir angkot dating menghampiri kita. Dia coba untuk menawarkan angkutan ke Ngurah Rai dengan harga Rp. 80.000,-. Tanpa pikir panjang langsung kita pun naik angkot itu, karena kita melihat disekitar tidak ada taksi dan waktu kita pun sangat terbatas. Memang di Bali ini angkutan umum seperti angkot ini beroprasinya di tempat tertentu dengan batas waktu hanya sampai jam 8 an malem. Sepanjang perjalanan yang cukup jauh kita ngobrol dengan sopir nya sambil melihat-lihat lalu lalang jalan. Sampai akhirnya kita terhenti cukup lama di Simpang Siur, karena dampak dari ada mega proyek pembangunan jalan Tol diatas air dan jalan bawah tanah (underpass). Dari Simpang Siur jarak ke Bandara Ngurah Rai tinggal hanya tinggal beberapa kilometer lagi. Bisa dibayangkan jika kita ke Ngurah Rai dengan menggunakan angkot, mungkin kita satu-satu nya yang ke Bandara Ngurah Rai dengan menggunakan angkot, dengan style pakaian rapih dan membawa koper yang besar. Ini merupakan first time Saya ke Ngurah Rai dengan keadaan seperti ini. Apa mau dikata, toh yang penting kita sampai di Ngurah Rai dengan tepat waktu, budget murah dan mungkin ketika kita jalan disana ga akan tau ini mereka apa yang terjadi pada kita, hahah.  Sesampainya di Ngurah Rai, kita langsung turun kebut dari angkot dan langsung jalan untuk mencari loket tiket. Rizkar dan Ruby menunggu di lobby, Saya dan Adit ke loket tiket Citilink untuk minta reschedule penerbangannya si Adit jadi hari ini. Ternyata biaya reschedule penerbangan si Adit mencapai 700 ribu. Cukup mahal juga, dikira sekita 150 ribu-an. Saya pun coba tanya loket tiket penerbangan yang lain untuk keberangkatan hari ini, ternyata harga nya rata-rata mencapai 900 ribu. Ketika Saya balik lagi ke loket tiket Citilink, ada seorang calo tiket yang ternyata dari tadi memperhatikan kami dan dia pun bertanya tentang masalah tiket kami. Saya pun mulai merasa terusik, akan tetapi si calo nih menawarkan kami tiket Lion Air yang harganya 600 ribu untuk penerbangan hari ini, dengan syarat tuker tambah dengan tiket Citilink si Adit. Tanpa pikir panjang si Adit pun setuju dengan si calo tersebut dan dia pun langsung chek in dan pamit sama kita, karena dia dapet tiket dengan keberangkatan pukul 11.00 WITA, sekitar 1 jam untuk dia mengurus  keberangkatannya.

Ketika Adit masuk boarding pass, kami pun langsung menitipkan koper di tempat penitipan koper bandara.  Tarif  untuk satu koper per hari nya kena 25 ribu, kami berencana menitipkan 2 koper dengan jangka waktu 4 hari, jadi total biayanya mencapai 200 ribu. Tak apalah, daripada kami ke Lombok bawa koper besar-besar malah jadi repot. Memang niatnya juga mau backpacker, masa bawa koper. Ketika di penitipan koper, ada seorang bule perempuan yang hendak mengambil kopernya, akan tetapi ketika berbicara dengan si penjaga penitipan koper terjadi miss communication. Si penjaga penitipan tidak begitu bisa bahasa inggris, dan di buat bingung oleh si bule ini. Saya yang melihatnya pun mencoba untuk membantu si penjaga penitipan sampai akhirnya selesai juga permasalahan.  Setelah masalah selesai dan koper kami pun dititipkan, kami siap berangkat menuju Padang Bai, akan tetapi sebelum meninggalkan tempat penitipan koper, kami minta foto bareng bule asal Swedia yang tadi terlibat miss communication sama si penjaga penitipan koper, dengan senang hati si bule pun menerima.

Petualangan di mulai…. dari sinilah Saya, Ruby & Rizkar memulai perjalanan ke Lombok. Pertama-tama kita harus mencari taksi dengan budget murah menuju Pelabuhan Padang Bai. Sopir taksi yang berada di Ngurah Rai pun satu persatu kami coba tawar harga ke Padang Bai. Ternyata ada satu sopir taksi yang terima dengan harga 200 ribu sampe ke Padang Bai, tentunya setelah melewati proses nego yang cukup lama. Sopir taksi ini pun langsung mengajak kami menuju mobilnya, dan ternyata mobil taksi nya tuh APV baru. Alhamdulillah kita dapet mobil yang bagus dan nyaman menuju Padang Bai, ini memungkinkan untuk kita beristirahat sejenak, karena mengingat perjalanan dari Ngurah Rai ke Padang Bai sekitar 2 jam-an. Sekedar informasi, Taksi di Bandara Ngurah Rai ini rata-rata mereka yang harga nya murah adalah Taksi dengan mobil seperti Avanza, APV, Luxio dll, karena harga nya bisa dinego, apalagi kalo dengan jumlah 4 sampe 6 orang, otomatis biaya taksi per orang nya akan kena murah. Sambil beristirahat, sambil ngobrol sama sopir taksinya dan tak terasa kami pun sampai di Pelabuhan Padang Bai sekitar pukul 12.45 WITA. Kita pun turun di depan gerbang Pelabuhan Padang Bai, ketika baru saja turun dari mobil, seseorang menghampiri kami dengan motornya dan langsung menawarkan kami tiket Fast Boat. Menurut informasi dari sopir taksi tadi katanya ada Fast Boat yang langsung ke Gili Trawangan dengan jam pelayaran terakhir pukul 13.00 WITA. Nah, orang yang menawarkan tiket Fast Boat init tuh langsung memaksa Saya naik motornya, padahal Saya baru tanya harga nya berapa doang. Diantarkan lah Saya ke loket tiket Fast Boat ini, dan Ruby pun datang menyusul. Langsung Saya tanya ke loket tiket masalah tiket Fast Boat ini, katanya harga untuk tiga orang sekitar  750 ribu rupiah. Sontak mendengar harga segitu Saya pun langsung menolaknya dan mencoba untuk pura-pura pergi agar harganya dapet turun lagi. Ternyata cara ini pun ampuh membuat harga menjadi turun, karena mengingat Fas Boat ini yang terakhir menuju Gili Trawangan dan sedangkan masih banyak tersisa kursi kosong. Akan tetapi harga nya masih cukup tinggi bagi kami, karena masih di angka 525 ribu rupiah untuk 3 orang. Kali ini Saya menolaknya, dan coba pergi beneran, ketika Saya meminta kepada orang yang tadi mengantarkan Saya dan Ruby ke loket tiket ini untuk mengantarkan kami kembali ke depan gerbang Pelabuhan Padang Bai, dia pun menolaknya dan dia malah mengejek kami dan dia bilang “jalan aja sana sendiri”. Sungguh Calo breng**k, b**ingan, kutu kupret, Dengan enaknya dia bilang begitu sambil tertawa. Saya dan Ruby pun jalan ke depan gerbang yang cukup jauh dengan perasaan gendek. Sebagai pelajaran, kalo kita tidak mau naik Fast Boat, langsung tolak aja calo yang nawarin tiket Fast Boat. Postifnya kalo kita mau naik Fast Boat langsung ke Gili Trawangan, lebih baik beli tiketnya ketika mepet mau jam 1, Insya Allah harganya bisa di nego.

Rizkar yang cukup lama menunggu kedatangan Saya dan Ruby pun merasa takut, karena takut ditinggalin Saya dan Ruby ke Lombok. Setelah berkumpul kembali, kami pun masuk pelabuhan Padang Bai dan langsung mencari loket tiket kapal feri. Belum ketemu loket tiket kapalnya, kita sudah dihadang sekitar 6 calo tiket kapal dengan harga 35 ribu rupiah. Kami pun dipaksa dan di giring ke kapal yang kata si Calo masih baru dan bagus. Kami pun digiring hingga mau masuk ke kapal itu. Ketika kami di giring menuju kapal tersebut, Ruby merasa ga enak perasaan dan merasa kalo kita akan ditipu. Sontak Ruby pun ngomong ke Saya untuk ‘slow’ dulu jangan langsung naik. Memang Saya pun berpikir untuk makan dulu, karena perjalanan kapal ini akan memakan waktu lama hingga 5 jam perjalanan. Mengingat makanan di kapal pasti mahal-mahal, Saya pun langsung memutuskan untuk balik arah dan mencari tempat makan. Akan tetapi si calo ini pun masih tetap mengikuti kami hingga kami berhenti di deket warung dan sambil mencari-cari tempat makan. Saya pun mulai merasa terusik dengan cara si calo ini yang mengikuti kita terus. Terlebih lagi posisi pada saat itu tuh panas menyengat, Ruby dan Rizkar pun malah berdiri ga jelas dibawah baliho iklan. Nah, pada saat si calo kembali berbicara panjang lebar masalah keberangkatan kapal itu, Saya pun langsung menghampiri dan membentak nya “Saya juga tau pak, Saya orang Banten, sering nyebrang Merak – Lampung”.  Tak lama kemudian para calo tiket ini pun pergi meninggalkan kami, dan kami pun langsung mencari tempat makan yang akhirnya tertuju pada Rumah Makan Muslim Jawa Timur.

Setelah makan dan sholat, Saya pun berencana beli tiket sendiri ke loket tiket tanpa Ruby dan Rizkar, karena untuk menghindari dari calo tiket. Ketika di loket tiket pun calo tiket tetap menghampiri Saya, dan yang Saya heran kenapa pegawai Dinas Perhubungan yang menjaga sebagai petugas tiket melihatnya biasa saja dan seakan tidak mau ikut campur. Setelah tiket berhasil Saya beli langsung saja kami memasuki kapal ferri Jasmine, yang katanya masih baru dan bagus. Benar saja apa yang di katakan calo tiket tadi, Kapal Jasmine ini fasilitas nya bagus, ada ruang lesehan AC nya, jadi dapat tidur nyenyak. Untung saja kami masih sempat naik kapal ini, karena tadi memang kami telah membuang waktu 1 jam ketika dipaksa calo tiket untuk menaikinya. Setelah kami menaiki kapal, tak lama kemudian kapal pun mulai berlayar perlahan meninggalkan Pelabuhan Padang Bai sekitar pukul 14.00 WITA. Kami istirahat di ruang lesehan AC, karena mengingat perjalanan yang cukup lama hingga 5 jam-an. Di ruang lesehan ini tidak begitu padat penumpang, begitu juga dengan tempat duduk di luar kapal. Jadi kami lebih leluasa untuk beristirahat sejenak. Tapi barang-barang bawaan harus tetap waspada ya..

2½ jam berlalu, kapal pun mulai terasa goyang-goyang cukup kuat, hingga Saya pun terbangun melihat jendela. Ternyata kita sedang berada di tengah selat Lombok, cukup membuat penasaran, Saya pun keluar den menujuk dek atas kapal. Dari sini sudah terlihat pulau Lombok  dengan bukit-bukit nya, dan membuat Saya merasa ingin cepat-cepat sampai disana. Ketika melihat suasana indah di atas kapal, Saya pun teringat dengan sodara jauh Ruby yang orang Lombok. Ceritanya mamah Ruby punya sepupu perempuan, nah sepupu perumpuannya itu nikah sama orang Lombok, yang mana dia punya adik di Lombok. Nah, kita tuh berencana untuk menghubungi adik suami nya sepupu mamahnya Ruby. Dengan bermodalkan nomor telpon yang dikasih langsung oleh suaminya itu, Saya pun coba untuk menelponnya, karena Ruby sendiri tidak berani. Setelah di telpon dan direspon menurut Saya cukup baik dengan akhiran dijanjikan akan ditelpon kembali, kami pun menaruh harapan kecil pada sodara jauh Ruby yang bernama Om Rudy ini. Sambil menunggu Om Rudy menelpon lagi, kami pun pindah posisi ke dek atas kapal untuk menikmati pemandangan. Pada saat itu, pulau Lombok benar-benar terlihat jelas bukit-bukitnya, mungkin ini tanda nya sebentar lagi kita akan berlabuh. Saya lihat disekitar tempat duduk di dek atas kapal, banyak bule yang sedang baca buku, sedangkan banyak orang Indonesia menghabiskan waktu perjalanan nya dengan dengar musik, tidur bahkan ngerokok terus sampe bosan. Sungguh perbedaan budaya yang sangat kontras.

Alhamdulillah, Om Rudy yang diharapkan kami akhirnya menelpon kembali, dengan respon yang baik, kami pun ditunjukan jalan kerumah nya jika nanti kita sudah sampe Pelabuhan Lembar. Tak sabar ingin cepat-cepat sampe pelabuhan, eh di sekitar kita sudah terlihat begitu dekat bukit-bukit pulau Lombok yang dihiasi suset yang tepat berada di atas bukit-bukit.  Ini adalah posisi kapal sekitar 30-45 menit lagi akan berlabuh. Jangan sampe deh melewati moment ini. Karena mata kita akan dimanjakan pemandangan yang sangat indah disini. Tidak lupa kami mengabadikan moment sunset ini dengan kamera. Laju kapal pun mulai melamban, dan perlahan berhenti, karena sedang menunggu giliran kapal lain untuk berlabuh. Setelah itu kapal pun perlahan menuju dermaga dan berlabuh. Akhirnya kami sampai juga di Lombok, awalnya kami sempat ragu untuk pegi ke Lombok ini setelah ada sedikit kekacauan rencana ketika di Bali. Tetap selalu bertiga (Saya, Ruby & Rizkar) lagi kalo kemana-mana, ini bukan masalah harta, tapi masalah persahabatan, susah senang kita hadapai bersama. Kami pun tidak bisa percaya dan terus tetap tersenyum ketika detik-detik mau berlabuh. Ketika posisi kapal sudah membentur dermaga, pintu gerbang kapal pun dibuka dan satu persatu kendaraan dan penumpang pun keluar begitu pun dengan kami. Baru turun dari kapal, sudah banyak tukang ojek yang menawari jasa nya, akan tetapi kami menolak dan mencari angkutan umum saja. Ketika kami lagi berjalan, ada seorang sopir taksi gelap menghampiri kami dan menawarkan jasa nya dengan harga 50 ribu sampai Labu Api. Kami pun menolaknya, akan tetapi sopir tersebut masih mengejar-ngejar kami hingga kami menemukan Masjid dan kami putuskan untuk sholat dulu sekalian untuk menghindari sopir tersebut.

Setelah sholat Magrib dan Isya, kami berbincang-bincang dengan warga sekitar dann alhamdulillah banyak warga yang membantu kami dalam mencari kendaraan umum ke Labu Api, bahkan ada seorang warga yang mencarikan taksi untuk kami. Katanya memang taksi tidak boleh masuk Pelabuhan, karena tukang ojek dan sopir taksi gelap merasa terintimidasi oleh taksi. Jadi taksi pun hanya berani berada di jalan keluar pelabuhan saja. Kami pun keluar dari Masjid dan ditunjukan tempat biasa mangkal taksi yang tidak jauh dari jalan raya tepat keluarnya kendaraan dari pelabuhan. Ketika kami duduk di warung tempat biasa sopir taksi mangkal, lewatlah taksi yang dipanggil warga tadi, karena merasa tidak ada orang, taksi pun beranjak pergi lagi. Hancurlah harapan taksi kami, dan kami terpaksa menunggu taksi berikutnya. Eh, datanglah sopir dengan mobil Livina menawari kami harga 40 ribu sampai Labu Api, ternyata sopir tersebut yang tadi mengejar-ngejar kami di pelabuhan dengan mobil Carry nya. Syukur alhamdulillah, tidak dapat taksi tapi dapat mobil Livina baru, hehe. Diantarlah kami hingga polsek Labu Api dan bertemu istrinya Om Rudi. Diantarlah kami ke rumah Om Rudy yang terletak di daerah Prampuan, Labu Api. Kami pun di jamu makan malam dan ngobrol-ngbrol sama Om Rudy, ternyata keluarga Om Rudy ini sangat baik, kami pun beruntung bisa bertemu dengan sodara jauhnya Ruby, mengingat kami hanya diberi nomor telpon Om Rudy saja oleh sodara Ruby yang di Serang. Setelah makan dan ngobrol-ngobrol kami pun istirahat dikarnakan esok pagi harus sudah berangkat menuju Gili Trawangan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More