Cappuccino

Cappuccino adalah minuman khas Italia yang dibuat dari espresso dan susu. Cappuccino mempunyai rasa dan aroma yang khas, selain itu para barista dapat menciptakan seni latte pada microfoam, menciptakan desain-desain tertentu seperti apel, hati, daun, dan rangkaian.

Tari Legong dari Bali

Legong merupakan sekelompok tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari gambuh.

Rawa Danau dengan segala keindahannya

Rawa Danau adalah Kawasan hutan seluas 2.500 ha yang ditetapkan sebagai Cagar Alam. Rawa Danau merupakan rawa yang terluas di Pulau Jawa dengan segala keindahan alam yang masih terjaga.

SXC2 (Serang XC Community)

Serang XC Community adalah komunitas sepeda gunung yang berada di Serang-Banten. Komunitas ini berdiri dengan tujuan silaturahmi sesama goweser dan mendukung juga gerakan go green.

Gabson Family

Gabson Family adalah sekumpulan manusia yang mempunyai banyak kekurangan dan berusaha menutupi kekurangan itu satu sama lain. Dari kekurangan itulah kami menjadi sebuah keluarga.

Selasa, 24 Mei 2011

Fancy Character 2.4 Full Version

Fancy Characters adalah aplikasi untuk menyelipkan emotion pada pesan Blackberry Messenger BBM) sehingga pesan BBM yang kita kirim akan lebih menarik dan berwarna. Ada banyak pilihan emotion pada aplikasi ini dan penggunaannya pun sangat mudah, pada saat menulis pesan di BBM dan ingin menggunakan emotion, tinggal tekan menu (ikon BB) kemudian pilih "insert fancy char" kemudian anda tinggal memilih icon yang ingin ditambahkan pada pesan. 

Aplikasi ini gratis trial 3 hari namun jika ingin menjadi full version alias tidak trial maka harus membelinya, namun jangan khawatir, untuk penggemar gratisan saya akan bagikan cara agar bisa menjadikan aplikasi fancy characters ini full version dengan gratis.
  1. Download aplikasinya di : http://www.ziddu.com/download/15101194/FancyCharacter2.4.zip.html
  2. Extract file FancyCharacter2.4.zip pada komputer anda
  3. Install aplikasi Fancychar.alx atau fancychar.cod pada Blackberry dengan bantuan Blackberry Desktop Manager
  4. Setelah sukses, buka aplikasi BBKeyGen.exe pada komputer,pada kolom PIN (paling atas) masukkan PIN Blackberry anda, lalu hilangkan tanda Ceklis yang tertera pada aplikasi-aplikasi kecuali aplikasi Fancychar 2.x, kemudian klik GENERATE, maka akan muncul kode aktivasi Fancy Character
  5. Buka Blackberry Messenger anda, masuk menu (ikon BB) kemudian pilih "insert fancy char" masukkan activation code yang telah diberikan tadi kemudian klik Activate.
  6. Sekarang anda bebas menggunakan aplikasi ini dengan full version secara gratis.
Jika ada pertanyaan atau ada yang kurang jelas silahkan tinggalkan komentar anda.
Terimakasih..

Sabtu, 21 Mei 2011

SXC2 Goes to Baduy #2

Setelah semuanya siap, lalu kami berkumpul membentuk lingkaran dan sedikit arahan dari Pak Udin (pemandu tour baduy, bukan Udin Sedunia loh) lalu berdoa memohon keselamatan. Pukul ± 17.30 kami berangkat menuju gajeboh untuk menginap, tentunya kami harus Hiking. Sebelum memasuki kawasan kampung Baduy, kami harus meminta ijin dulu kepada Jaro (ketua pemerintahan Baduy), yang ijin cukup 2-3 orang jangan terlalu banyak, dan kita harus membayar Rp. 25.000. Setelah izin kami lanjutkan perjalanan. Kontur jalan nya tanah becek + licin, dan terdapat batu-batu di tengahnya. Batu-batu itu dibuat oleh warga baduy agar para wisatawan dapat berjalan dengan lebih baik dan tidak terpeleset. Hari sudah mulai gelap, untung saja para goweser semua membawa lampu sepedanya, jadi ada sedikit penerangan jalan. Pada saat hiking ke tempat penginapan, sangat terasa sekali pegal-pegal pada bagian kaki dan jalan kami pun mulai tidak beraturan, mungkin karena habis gowes + gelapnya jalan + kontur jalan yang naik turun bukit. 
Setelah melewati kampung Kaduketug, Babakan Balimbing dan Marengo akhirnya kami sampai juga di penginapan, dan ternyata Gajeboh itu nama kampung Baduy Luar yang jadi tempat persinggahan kami, bukan nama tempat penginapnya, hahah. Rumah Baduy Luar tertata rapi, kontur tanahnya rata tidak seperti rumah Baduy Dalam yang mebiarkan tanah apa adanya. Rumah ini terbuat dari bambu dan kayu beratap rumbia lalu dibuat menjadi seperti rumah panggung. Baduy memiliki 59 kampung, 3 diantaranya kampung Baduy Dalam yaitu Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo. Luas seluruh Kampung di Baduy sekitar 15.000 hektar, ±3.000 hektar untuk hutan lindung dan yang ±2.000 hektar untuk lahan bercocok tanam dan sisanya untuk tempak tinggal. Populasinya mencapai kira-kira ±11.172 jiwa. Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar, mereka ada yang sebagian lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Baduy tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.  Mata pencaharian utama masyarakat Baduy adalah bertani. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan dan hasil keranjinan tangan yang mereka buat. Contohnya saja di tempat kami menginap ada warga baduy yang berjualan seperti mie, rokok, kopi, makanan ringan dan lain-lain. Warga ciboleger juga banyak berdatangan ke tempat dimana wisatwan menginap di kampung baduy, mereka berdagang souvenir khas baduy.
Tempat penginapan kami terbagi menjadi dua, keduanya saling bersebrangan. Pertama kali sampai di tempat penginapan yang saya tanyakan adalah kamar mandi, dan merekapun menjawab di sungai. Memang sudah pasti ditempat begini semua aktivitas yang berhubungan dengan air pasti dilakukan disungai. Setelah semuanya rehat sejenak dan membereskan tata letak tas-tas, kami pun beranjak mandi ke sungai, tentunya dengan perlengkapan mandi dan senter karena keadaan malam. Ketika saya mau berangkat mandi, Pak Supri hendak ikut, dan ketika saya samperin tuh ke penginapan di sebrang, katanya Pak Supri udah berangkat, lalu ditunjukan arahnya ke sebelah kiri tepat dibelakang penginapan (letak sungai berada), berangkatlah saya kesana sambil memanggil Pak Supri dan menyenter-nyenter di sekitar sungai. Ternyata eh ternyata yang saya senter adalah wisatawan perempuan yang sedang melakukan aktivitas di air dan sambil berteriak "AAAaaarghh!!!". Terdengar terikan seperti itu saya pun panik dan langsung balik lagi. Ternyata saya di bohongin, itu sungai tempat perempuan, dan Pak Supri masih di penginapan. Setelah kejadian panic at the river lalu kami mandii di bibir sungai lain nya yang di tunjukin oleh adiknya Pak Udin.
Kami pun mandinya terpisah, karena sungai ini membentang luas disamping pemukiman warga. Tak terbayang jika harus mandi di sungai malam-malam hanya dengan penerangan lampu senter, gimana cara mandinya? dan yang pasti jangan dibayangin ya, heheh. Hal yang paling lucu adalah ketika ada yang mau kencing atau bab. Itu tuh pasti dilarang-larang terus, dan yang sedang mandi bilang "waduh Pak, jangan disitu, itu aliran nya (sungai) ke saya". Pasti bingung lah orang yang mau buang air kecil, dan cara amannya adalah langsung masuk ke air lalu "ceeessss", sudah selesai deh, hayo siapa yang kaya gitu? hahah. Di Baduy Luar ini kita masih diperbolehkan untuk memakai sabun, sampoo untuk mandi di sungai. Kalo di Baduy Dalam bahan kimia dilarang dipakai disungai. Setelah mandi bebek di sungai kami kembali lagi ke penginapan, tetapi sebagian masih ada yang mandi, betah amat pak mandinya? (ˆͺˆ).
Bermalam di Baduy memang sangat damai, tentram dan tenang, tidak ada suara bising kendaraan dan polusi, yang ada hanya suara manusia dan hewan yang merasakan kedamain. Canda tawa kami memecah keheningan malam. Obrolan demi obrolan kamipun ditemani segelas kopi yang dibeli dari warga baduy yang berjualan di penginapan. Goweser yang lainpun sibuk tawar menawar dengan pedagang souvenir khas Baduy. Rasa lelahpun kian menyapa kami hingga mengantarkan kami terlelap tidur. Dengan harapan esok hari tetap fit untuk bisa hiking ke Baduy Dalam.
“Guk guk guk……!!!!” suara anjing yang begitu keras terdengar ditelinga saya. Kira-kira subuh jam 3 an anjing-anjing di perkampungan ini menggonggong seakan ada pertanda. Tersadar saya, Pak Yopie dan Pak Mars tidur di teras depan penginapan yang dekat sekali dengan suara anjing itu. Karena takut anjingnya naik keteras,  spontan saya langsung bangun, lalu mencoba untuk pindah kedalam dan mencari tempat yang kosong. Ternyata suhu didalam tidak begitu dingin tidak seperti diluar. Karena tidak bisa tidur lagi, dan suara anjing pun sudah berganti dengan suara ayam yang berkokok, saya kembali lagi ke teras. Satu persatu goweser mulai bangun dari tidurnya. Tiba – tiba Pak Didit keteras, lalu terdengar suara “preeetttt”, dan Pak Yopie pun membalasnya “preeettt”, Pak Mars yang sedang tidur pun tidak mau ketinggalan sesi adu kentut ini, sambil tidur bunyilah “preeeett” , Pak Topik yang berada di dalam juga tertarik untuk keluar dan mengikuti kontes adu kentut ini, sehingga cukup imbanglah perlawanan adu kentut di subuh hari ini antara Pak Didit & Pak Topik VS Pak Mars & Pak Yopie, dan berlangsung cukup lama. Hahaha.
Pagi pun menyapa kami, begitu sejuk, damai, tidak ada suara kendaraan bermotor dan tidak ada polusi. Warga baduy sudah banyak yang beraktivitas dipagi hari, terutama yang perempuan, mereka sudah ke sungai sejak dari pagi buta, mungkin supaya tidak terlihat kali ya, heheh. Kami pun satu persatu muali mengambil pelengkapan mandi kami dan menuju sungai. Tadinya saya tidak mau mandi, karena udaranya dingin dan males ke sungai, eh dapat kabar kalo ada pancuran air bersih di dekat sungai sana, langsung saja Saya, Pak Yopie, Pak Didit, Pak Danar , Pak Dodo dan Pak Topik menuju pancuran. Sesampainya di pancuran, ternyata sepi, airnya pun bersih dan dingin. Pancuran ini bersumber dari atas gunung, yang airnya mengalir melalui bebatuan dan diujungnya dipasang bambu yang dibuat oleh warga baduy. Pak Danar dan Pak Dodo yang katanya sudah mandi di sungai pun mandi lagi di pancuran ini, katanya mereka ga sudi kalo mandinya di sungai tapi ada pancuran.  Para goweser lain belum mengetahui kalo ada pancuran yang airnya seger banget langsung dari atas gunung, di banding di sungai yang airnya ya gitu deh.
Setelah selesai mandi kami langsung sarapan yang sudah dari tadi disediakan. Nasi goreng + telor ceplok jadi sarapan kami pagi ini untuk hiking ke Baduy Dalam.  Setelah sarapan kami bersiap-siap untuk hiking. Tas-tas kami yang berat-berat tidak dibawa hiking, tetapi di titipkan untuk dibwa kembali ke Ciboleger,  mengingat tracknya begitu jauh dan berat. Kami pun berkumpul dan membentuk lingkaran untuk berdoa dan sedikit arahan tentang track. Diputuskan bahwa Pak Dono, Pak Danar, Pak Aam, Pak Zaenal dan Pak Roni tidak ikut hiking ke Baduy Dalam karena ada alasan tersendiri. Tidak lupa untuk berfoto sejenak sebelum meninggalkan kampung Gajeboh.  Setelah berfoto dan semuanya siap kami berangkat menuju Baduy Dalam.
Di samping kampung Gajeboh ini ada jembatan bambu. Ini merupakan jembatan Bambu petama yang kami lewati. Design jembatanya menggantung melintasi sungai yang cukup lebar. Pada saat melintasi jembatan ini, kami berbarengan dengan siwsi-siwsi SMK yang ada di Pandeglang, mereka hanya di pandu oleh beberapa lelaki. Tapi tenang aja neng, dibelakang masih banyak lelaki-lelaki yang siap membantu, heheh.  Setelah melewati jembatan bambu kami langsung mulai menanjak bukit yang cukup terjal, kemudian turun lalu menanjak kembali dan turun bukit lagi. Banyak siswi-siswi yang tercecer disini, begitu juga dengan para goweser yang ikut tercecer karena menemani siswi-siswi yang tercecer, haha.
Dari kejauhan terdengar suara sentakan kayu yang beradu, sentakannya begitu berirama satu sama lain. Ternyata sentakan itu berasal dari gadis-gadis Baduy Luar yang sedang menenun. Ya kami sampai di Kampung Cicakalmuhara yang masih daerah Baduy Luar. Kami pun duduk-duduk sejenak dan berfoto dengan seorang gadis yang sedang menenun. Lalu kami melanjutkan kembali perjalanan kami, perjalanan yang masih ditemani dengan tanjakan dan turunan yang curam. Sepanjang perjalanan kami, banyak anak kecil dari Baduy Luar  yang menawarkan air mineral dan sebagainya, mereka mengikuti para wisatawan dengan lincah dan tanpa merasa lelah. Padahal tracknya begitu berat, mungkin mereka sudah terbiasa.  Setelah kampung Cicakalmuhara, kami kemudia melewati kampung Cipaler yang masih daerah Baduy Luar. Hingga ke Jembatan Tamayang, yaitu Jembatan bambu yang menjadi perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy dalam. Siswi-siswi yang tadinya hiking berbarengan tertinggal jauh dibelakang kami. Sesampainya di jembatan Temayang ini, kami berfoto sejenak, mengingat kalau sudah di Baduy dalam tidak boleh foto dan handphone pun dimatikan. Di Jembatan Temayang ini sudah ada wisatawan dari SMKN 1 Tangsel yang sedang berkumpul di sungai tepat dibawah jembatan.  Ketika kami sudah menyebrangi jembatan Temayang ini, pemandu kami yaitu Fido & Opi bertemu dengan Juli dari warga Baduy Dalam yang mereka sudah kenal sebelumnya. Kemudian mereka menyampaikan pesan kepada Juli, sepertinya pesannya berupa cetakan foto Juli bersama wisatawan lain. Setelah berbincang dengan Juli, kami sempatkan foto bersama dengan icon warga Baduy Dalam, karena kalo di dalam sana untuk foto bersama warga Baduy Dalam tidak boleh. Dan ternyata wisatawan SMKN 1 Tangsel juga ingin berfoto dengan Juli. Lalu kami melanjutkan perjalanan, dan langsung saja kami dihadang oleh yang namanya tanjakan Cinta (kata warga Baduy Dalam) yang kira-kira panjangnya 1 Km dan sangat curam sekali. Dibawah terik panasnya matahari kami harus menanjak, perlahan sambil membungkukan badan dan akhirnya sampai juga. Langsung kami rehat sebentar di rumah warga Baduy Dalam sambil mengenal warga Baduy Dalam.  Setelah selesai rehat kami kembali berjalan lagi menuju kampung Cibeo yang katanya tidak jauh dari sini.
Sambil hiking kami mengobrol banyak tentang adat Baduy Dalam sama Juli. Katanya Warga Negara Asing (WNA) dilarang/tidak boleh masuk kedalam kawasan Baduy Dalam, dan mereka hanya bisa masuk sampai Baduy Luar saja. Juli juga menceritakan tentang bagaimana, orang Baduy hidup, makan, bekerja, dan cinta. Nah tentang cinta, katanya orang Baduy Dalam itu menikah harus diatas umur 20 tahun, dan pasangannya itu biasanya didapat dengan dijodohkan, masih jaman Siti Nurbaya nih, hehe. Juli pandai berbahasa Indonesia, karena dia sering pergi keluar, seperti ke Jakarta, maka dari itu dia sering berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia. Biasa nya Juli pergi ke Jakarta bersama Ayah dan Kakaknya, tentunya dengan berjalan kaki, karena Baduy Dalam sangat berpantangan dengan alat transportasi. Sepeda pun mereka tidak memakainya. Sungguh sangat sederhana. Begitulah sedikit cerita tentang Baduy, dan tak terasa akhirnya kami pun sampai di Kampung Cibeo  daerah Baduy Dalam. Ketika kami sampai, kami di sambut 4 perempuan yang sedang mandi di sungai, waw rejeki mah ga kemana, Hahah. Awas pak jangan dliatin aja, nanti jatuh loh ke sungai, dan para pembaca jangan ngebayangin, toh mereka mandinya pake baju kok. Kami pun langsung menuju rumahnya Juli, dan kami di jamu oleh Bapaknya Juli dan diberi hidangan Gula Aren dan air minum yang disajikan di mangkok, kaya orang jepang aja deh minumnya. Tampaknya rumah Baduy Dalam dibiarkan plong aja gitu tidak ada sekat, yang di sekat hanya kamar saja, dan hanya ada 1 pintu di depan.  Kontur tanahpun dibiarkan apa adanya, jadi kayunya yang menyesuaikan dengan kontur tanah.  Warga Baduy Dalam mereka berpakaian putih dan ikat kepala putih namun untuk celananya pake semacam rok kain hasil tenun, dan selalu membawa golok khas Baduy Dalam di pinggangnya. Dari anak kecil kecil hingga dewasa rata-rata mereka mebawa golok di pinggangnya. Rata-rata dari mereka tidak bisa Berbahasa Indonesia, walaupun ada yang bisa hanya sebagian kecil saja. Ada sebagian warga Baduy yang membuka warung kecil-kecilan, mereka menjual makanan ringan, entah warga Baduy Dalam atau Baduy Luar yang berjualan itu. Hebatnya lagi pedagang souvenir khas Baduy dari Ciboleger ada disini, mereka meengikuti wisatawan hingga ke Baduy Dalam. Ada seorang warga Baduy yang ingin menjual goloknya yang ada serat-seratnya, nampaknya Pak Topik dan Pak Mars tertarik untuk membelinya. Memang goloknya mempunyai nilai seni yang tinggi, dari besinya hingga penutupnya semuanya mempunyai ukiran khas Baduy Dalam. Karena harga nya tidak bisa di nego dan akhirnya Pak Koes lah yang membelinya dan langsung di pasang di pinggangnya, biar kaya orang Baduy katanya. Setelah istirahat dan mengobrol banyak tentang baduy hingga penawaran golok khas Baduy, kami bersiap kembali untuk perjalanan ke Danau dan makan siang. Sebagai ucapan terimakasih kami, lalu kami memberi makanan ringan yang kami bawa.
Setelah semuanya siap, kami melanjutkann hiking ke Danau. Perjalanan kami ke Danau masih di temeni Juli dan Pak Udin. Masih di Cibeo, Pak Udin memberitahu kami rumahnya Pu’un (ketua adat Baduy) dan aula pertemuan. Di halaman rumah Pu’un di beri batasan, jadi orang-orang tidak boleh melewati batas yang sudah di beri tanda, dan hanya bisa melihatnya dari jauh. Baru saja keluar kampung Cibeo kami sudah harus menanjak lagi, tampaknya track terberat kami adalah kali ini.  Tracknya nanjak turun mulu, mana curam-curam lagi, kami pun kewalahan menanjaknya, kalo kata goweser beratan nanjak yang beginian dari pada ngegowes. Beberapa kali kami berpapasan dengan warga Baduy Luar yang berbondong-bondong, dengan lincah mereka menajak tanpa menggunakan sendal. Lah kalo kami?! menanjak perlahan-lahan tapi pasti asalkan tidak pingsan, heheh. Disini terbukti rahasia kekuatan Pak Yopie yang biasanya kalo ngegowes tanjakan itu selalu gigi berat, sekarang pada saat hiking di Baduy Pak Yopie selalu didepan tanpa merasa lelah dan terus melahap tanjakan dengan pijakan yang tepat, walaupun dengan berat badan yang berlebih, tetapi beliau tetap kuat menanjak dan selalu didepan. Yang paling lucu Pak Supri, biasanya kalo gowes selalu ngajak track jauh dan berat, eh pas hiking ke Baduy malah tepar, ngeluh & marah-marah terus,hahah. Kalo Pak Mars, kain ikat kepala Baduy Luar yang dikenakan di kepalanya menjadi sangat basah karena keringatnya dan berkali-kali beliau peras tuh kain. Berbeda dengan Pak Topik yang dikepalanya menancapkan satu helai bulu burung di ikat kepalanya, kaya kepala suku deh, haha.
Hari pun semakin siang dan panas, tanjakan demi tanjakan, bukit demi bukit, sungai demi sungai kami lalui di bawah terik panasnya matahari, persedian air pun mulai menipis, begitu juga perut kami mulai kelaparan. Semua yang kami lihat layaknya fatamorgana, tanjakan didepan kami lihat seperti turunan, dan orang didepan kami, kami lihat seperti makanan, Hahah.  Pada titik puncak tertinggi kami behenti dan berpapasan dengan siswa-siswi SMA dari Jakarta, kira-kira jumlahnya mencapai 100 an dan mereka hanya di pandu oleh beberapa guru dan pemandu. Malah ada murid yang bawa koper, wah salah alamat tuh. Mereka tampak kelelahan dan putus asa, menurut informasi yang kami dapat setelah sampai di Ciboleger, mereka (siswa-siswi SMA dari Jakarta) hanya sarapan pagi dengan Mie saja, terus langsung hiking, dengan alasan untuk mengirit. Irit sih irit, tapi ga gitu juga kali, ini merupakan pelajaran buat kita apabila mau hiking ke Baduy, jangan lupa makan nasi yang cukup, karena tracknya begitu berat. Pada saat kami berhenti di puncak tertinggi kami melihat bukit-bukit di depan yang jalannya nanjak turun, dan kami yakin, kami pasti lewat situ. Karena kami sudah kelaparan, lelah, dan persedian air minum pun menipis, muncul lah ide-ide gila kami, yang berpikir coba ada flying fox, gantole, atau gondala yang bisa mengantarkan kami ke bukit-bukit itu tanpa harus naik-turun bukit dulu, hahah itu sih tidak mungkin. Celotehan demi celotehan muncul dari mulut goweser, dan hasilnya pun tidak  berbuah. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami, kami pun masih berpapasan dengan siswa-siswi yang tercecer begitu panjang. Sungguh kasihan melihat mereka yang begitu kelelahan dan hampir pingsan, rata-rata mereka yang tercecer dan tertinggal jauh adalah perempuan. Kami pun sepanjang perjalanan memberi semangat kepada mereka, bahwa Kampung Cibeo sebentar lagi, padahal mah jauh keneh pisan euy,hehe. Dan mereka pun memberi semangat kepada kami, katanya Danau nya masih jauh pak, wah itu sih nurunin mental. 
Sampai dirumah warga Baduy Dalam kami rehat sejenak sambil menunggu yang belakang, untung saja Fido masih membawa makanan, dan dibagi-bagikan kepada goweser, alhasil dalam sekejap langsung habis. Setelah rehat kami lanjutkan perjalanan yang masih panjang dan berbukit-bukit ini. Tepat bukit yang tadi kami lihat dari puncak tertinggi di sebrang sana kini kami lewati, dan kami melihat siswa-siswi tadi masih banyak yang sedang menanjak di puncak tersebut. Memang hiking ke Baduy ini harus dipersiapkan segalanya, dari kesehatan, mental, makanan dan minuman, dan tas barang bawaan jangan terlalu berat, karena tracknya aja sudah berat jangan ditambah berat lagi, dan Jangan lupa untuk pakai jasa pemandu, karena Baduy itu luas dan berbukit-bukit.  Mungkin itu sedikit tips untuk hiking ke Baduy. Perjalanan kami masih panjang, Pak Dodo, Om Iyan dan Saya pun sampai buka baju karena keringat yang membasahi badan sudah over limit. Pijakan kaki kami kini mulai tidak beraturan, persedian air minum pun mulai habis. Terpaksa kami harus berhenti lagi di rumah warga Baduy Dalam untuk minta air minum, untung saja ada Juli yang minta air minumnya. Berhubung airnya cuman ada satu botol besar dan tidak semua goweser kebagian, Pak Mars malah mengambil air minum dari pancuran yang mengalir pada bambu yang dibuat oleh warga. Akan tetapi rasa air minumnya berbeda dengan pancuran-pancuran yang lain, mungkin bambunya sudah lama dan lapuk. Disini mulai lagi timbul fantasi-fantasi aneh dari mulut goweser, coba ada ketoprak, mie ayam, baso, petis lah segalanya disebutin saking laparnya dan kecapean. Pak Udin pun memberi sedikit kami harapan, katanya tinggal ngelewatin satu perkampungan lagi kita sampe ke danau, dan makan. Mendengar seperti itupun kami langsung bangkit dan melanjutkan perjalanan. Sampai tiba di Kampung Kaduketer masih daerah Baduy Luar yang memiliki susunan rumah yang unik, yaitu dari bawah ke atas tersusun secara bertingkat rapi dan indah dipandang. Ternyata kata indah dipandang juga terungkap dari mulut Pak Mars dan Pak Topik yang mengalami kejadian mengejutkan. Ceritanya ada perempuan Baduy Luar yang sedang duduk dengan pose tidak wajar seperti laki-laki di teras depan rumahnya dan hanya memkai kemben. Mampirlah Pak Mars, Pak Topik, Pak Agus, Pak Supri dan Mba Fido kesitu untuk numpang menyeduh kopi. Lalu minta tolong ke teteh disitu untuk diseduhin kopinya. Ketika si teteh nya datang membawa kopi pesanan, terteguklah Pak Mars dan Pak Topik melihat pesanan yang datang, ternyata bukan hanya kopi saja tetapi Kopi + “Susu” yang datangnya. Yang lain tidak melihat hanya Pak Mars dan Pak Topik saja yang berada dekat si teteh itu sehingga ya mau gimana lagi, tidak bisa dihindarkan pemandangan indahnya Kopi + “Susu”, hahah. Setelah kejadian itu mereka melanjutkan perjalanan lagi tentunya dengan membawa Kopi + “Susu” yang hanya dilihat dan dirasakan oleh Pak Mars dan Pak Topik.
Setelah melewati kampung Kaduketer kami bertemu dengan Adiknya Pak Udin, tentunya dengan membawa makan siang (walaupun makan siang sudah lewat). Alhamdulillah, akhirnya kami makan juga, Pak Yopie, Om Iyan, Pak Dodo, Pak Udin dan Saya makan terlebih dahulu, karena datang lebih dulu. Rombongan belakang mungkin mengira perjalanan masih jauh lalu mereka berjalan perlahan (ternyata nyangkut di rumah si teteh pembuat Kopi + “Susu”). Setelah kami selesai makan, rombongan belakangpun datang dan langsung mengambil posisi untuk makan. Karena kami makannya bukan di Danau, tapi di pertigaan antar ke Danau dan ke Jembatan Akar yang menjadi tujuan utama kami. Pak Udin memberikan pilihan kepada kami, kalau belok kanan ke Jembatan Akar kalau lurus ke danau. Perjalanan ke Jembatan Akar itu sama seperti perjalanan kami dari kampung Cibeo ke pertigaan tempat kami makan sekarang, kira-kira 11 Km lagi. Sedangkan kalau ke Danau tidak begitu jauh dan hanya beberapa meter saja. Kami putuskan untuk langsung ke Danau lalu pulang ke Ciboleger. Padahal tujuan utama kami adalah Jembatan Akar, akan tetapi waktu yang membatasi kami untuk kesana. Disini kami berpisah dengan Pak Udin, karena beliau harus kembali ke Ciboleger duluan untuk meng-guide wisatawan lain yang akan hiking ke Baduy. Hati-hati Pak Udin, dan terimakasih atas semuanya.
Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami ke Danau yang jaraknya hanya beberapa meter saja. Dengan rasa penuh penasaran Danau nya seperti apa, pemandangannya dan suasananya bagaimana, akhirnya jawabannya terjawab juga setelah kami sampai di Danau Ageng. Tampak beberapa warga Baduy Dalam maupun Luar sedang menikmati indahnya Danau dan ada juga warga yang mungkin sedang mencari ikan dengan menggunakan perahu bambu rakitannya. Background dari Danau Ageng adalah pepohonan dengan bukit-bukit yang berjejer, di bibir danau juga ditumbuhi pepohonan.  Tidak lupa kami mengabadikan moment ini dengan berfoto bersama warga Baduy. Setelah menikmati Danau Ageng kami harus segera pulang ke Ciboleger, karena waktu yang sudah mulai mendekati sore. Perjalanan dari Danau ke Ciboleger ini relatif datar dan menurun. Pak Dodo, Om Iyan dan Saya jalan terlebih dulu, karena mereka sudah Lapar dan ingin segera menikmati Baso yang ada di Ciboleger, kalau Saya malah ingin BAB, karena dari kemarin tinggal di Baduy belum bisa BAB. Desa Ciboleger sudah mulai terlihat dari ketinggian bukit, tetapi kami belum tau jalan yang kami lewati ini berujung dimana.  Setelah bertanya-tanya dan akhirnya berujung di Kampung Kaduketug, yaitu kampung pertama yang kami lewati. Ternyata perjalanan kami itu mengitari wilayah Baduy sampai kami balik lagi ditempat awal. Tepat pukul 15.30 kami sampai di Ciboleger, waktu sampainya sama seperti kemarin kami gowes dari Serang ke Ciboleger. Rasa nya lega sekali setelah kami sampai di Ciboleger, saya pun langsung mencari toilet, Pak Dodo dan Om Iyan langsung makan baso. Sepeda pun sudah berjejer rapi di depan A***mart. Tidak lama kemudian rombongan belakang datang, dan langsung sebagian dari mereka memesan Baso, Mie dll. Kami pun diberi waktu untuk persiapan pulang hingga pukul 16.30.
Cuaca pun mulai mendung lalu hujan. Untung saja Pak Agus Bule sudah memesankan Truk mangangkut sepeda dan goweser dengan design penutup dibagian belakangnya, agar goweser tidak kehujanan. Setelah kami sudah siap untuk pulang, kami pamit pulang kepada Juli, adiknya Pak Udin, Pak Agus Bule, Istrinya Pak Agus Bule yang Waw (sulit diungkapkan dengan kata-kata, biar yang melihatlah yang menilai), Terimakasih atas semuanya yang telah membantu dan mendukung kelancaran acara hiking SXC2 ke Baduy, semoga kami bisa berkunjung kembali kesini. Mba Fido dan Mbo Opie ikut pulang dengan kami, mereka duduk di kursi samping sopir. Kami para laki-laki duduk dibelakang bersama sepeda kami. Untung saja hanya 10 sepeda saja yang dimuat di truk, jadi masih ada tempat duduk  untuk goweser. Posisi duduknya juga ngasoy di alas yang sudah ditutupi kardus-kardus. Ketika perjalanan pulang Pak Mars dan Pak Topik bercerita tentang Kopi + “Susu” yang mengejutkannya, berbeda dengan Pak Agus yang  mengalami kejadian yang lucu tentang baso yang dimakannya, begini kejadiannya. Setelah hiking dari baduy tadi Pak Agus, Pak Topik, dan Pak Didit laper tuh dan hendak makan, melihat Pak Dodo dan Om Iyan makan Baso dengan lahap, sepertinya mereka terbujuk untuk memesan Baso juga. Ketika pesanan baso mereka sudah datang, dan mereka pun mulai melahapnya. Akan tetapi Pak Agus merasakan baso yang dimakannya itu rasanya aneh lalu tidak diteruskan makannya dan Pak Agus pun bingung mau taruh dimana mangkoknya karena basonya masih banyak. Setelah basonya ditaruh ditempat yang aman, lalu Pak Agus langsung memesan Mie Goreng.  Mungkin saja Baso yang dimakan mereka sudah Kadaluwarsa, mengingat di Ciboleger kan tempat wisata yang mungkin hanya hari weekend saja dikunjungi orang. Akan tetapi Pak Dodo, Om Iyan, Pak Topik dan Pak Didit sudah melahapnya sampai habis tanpa merasakan rasa baso yang berbeda, mungkin mereka lapernya sudah susah dibendung, atau karena mungkin mereka makannya sambil ngeliatin Istrinya Pak Agus Bule, jadi ga berasa deh baso kadaluwarsanya. Hahaha.
“Uhuk uhuhk uhuhkk”, sebagian goweser pun mulai berbatuk-batuk akbiat asap (karbonmonoksida) dari mobil truk yang masuk kedalam bak truk tempat kami duduk. Asap ini keluar dari knalpot truk lalu si asap masuk menempati ruang yang kosong pada bak truk yang tertutup, sehingga sirkulasi udaranya tidak berjalan dan si asap berkumpul menempati seisi bak truk. Asap yang masuk ini sangat menusuk sekali bila terhirupnya dan membua kita mual-mual bahkan hampir muntah-muntah. Pak Koes, Pak Dodo dan Saya pun merasakan seperti itu. Pertama saya mulai merasa sesak nafas lalu timbul mual-mual, Pak Dodo merasa Pusing dan mual-mual, malahan Pak Koes yang selama perjalanan diam dan tidur saja langsung mual-mual dan muntah. Lalu terpal yang menutupi bak truk kemudian dibuka setengahnya  agar si asap tidak masuk ke bak truk. Akan tetapi masih tercium juga sedikit bau asap truk. Mungkin karena bagian depan nya ga dibuka sehingga sirkulasi udaranya tidak berjalan dengan baik. Solusinya adalah dengan berdiri di bagian belakang truk lalu, kepalanya menengok keluar tepat di sisi samping truk, maka akan terasalah udara segar. Akan tetapi cara ini berbahaya, karena takut ada mobil truk lagi yang datang dari arah berlawanan.  Saya dan Pak Dodo pun terpaksa bergantian posisi berdirinya untuk mendapatkan udara segar. Di tengah perjalanan gerimis pun mulai merintik, terpal sudah dibuka sebagian sehingga kami terkena rintikan gerimisnya. Akan tetapi kami masih tetap ceria, masih tetap tertawa dan masih tetap tersenyum dengan membawa setumpuk cerita dan pengalaman dari gowes ke Ciboleger sampai hiking ke Baduy. Walaupun tujuan utama kami adalah Jembatan Akar yang tidak tercapai, tetapi kami sudah cukup merasa happy, karena bisa hiking bersama-sama dalam susah dan senang. Mungkin next time tujuan kami adalah Jembatan Akar dengan prepare yang lebih baik. Pada saat ini yang berhasil menyelesakan espedisi Baduy dari SXC2 adalah 10 orang. Ada Pak Mars yang tetap terlihat masih segar dan tertawa terus sepanjang perjalanan pulang berkat Kopi + “Susu”, Pak Yopie yang berhasil melahap track baduy dan tetap kuat walaupun umur sudah tua, Pak Agus yang masih tertawa mengingat kejadian makan baso dengan rasa yang aneh, Pak Koes yang terlihat lelah dan sepanjang perjalanan pulang terlelap tidur, Pak Didit yang tetap cool dan tersenyum walaupun sudah makan baso kadaluwarsa, Pak Dodo yang masih tetap bersemangat dari awal gowes hingga hiking, Om Iyan yang masih ceria-ceria saja dan memamerkan flash light nya yang di beli dengan harga murah tetapi memiliki penerangan yang lebih, Pak Supri yang selama hiking terus mengeluh kelelahan dan gusar tetapi saat perjalanan pulang kembali tertawa dan feel happy, Pak Topik yang juga kelelahan hampir tepar tetapi masih sempat saja mengeluarkan jurus andalanya yaitu “menggetarkan dadanya” hahha dan kembali bugar setelah mendapatkan Kopi + “Susu”, dan terakhir Saya yang mulai merasa mual akibat asap dari truk, akan tetapi masih bisa tersenyum dan tertawa melepas bersama-sama selama perjalanan pulang kami. Sungguh perjalanan yang sangat lengkap, ada gowes, hiking, senang, susah, canda dan tawa, semuanya itu melengkapi kami semua. Banyak pengalaman yang berharga dari yang kami pelajari dari Baduy, seperti petuah yang dipegang mereka “PANJANG TIDAK BOLEH DIPOTONG, PENDEK TIDAK BOLEH DISAMBUNG”. Mudah sekali untuk mengartikannya, yaitu hiduplah apa adanya dengan sederhana.  Begitulah petuah mereka yang tetap mereka jaga sampai saat ini. Terbukti dari kontur tanah di Baduy dalam yang dibiarkan apa adanya, tidak di cangkul atau diratakan. 
Akhirnya kami sampai di Serang pukul 19.30, kami berhenti di Alun-alun timur Serang dan memutuskan untuk makan-makan dulu di sego kucing sambil melepas lelah dan sambil bercerita. Rasa lelah pun terbayar saat kami mulai meneguk segelas susu jahe yang kami pesan.  Para goweser lain pun mula menyantap makanan mereka yang rata-rata memesan banyak. Mba Fido dan Mba Opie pun disarankan untuk makan dulu sebelum pulang. Setelah kami selesai makan, kami langsung pulang kerumah masing-masing, mba Fido dan Mba Opie pulang naik angkutan umum terlebih dahulu sampai ke Gerbang Tol Serang Timur lalu naik Bus jurusan Rambutan lalu ke Bekasi. Karena mba Fido dan Mba Opie tidak tahu harus naik angkutan umum yang mana, maka Pak Agus, Pak Mars dan Saya menunggunya hingga di pastikan naik. Lalu Pak Mars dan Saya pun meluncur ke Gerbang Tol Serang Timur dan menunggunya untuk dipastikan turun disitu lalu pindah ke Bus. Setelah Mba Fido dan Mba Opie naik ke Bus, Pak Mars dan Saya pun pulang. Alhamdulillah sampai juga di home sweet home dengan selamat dan rasa senang akan pengalaman yang telah dilalui. Sungguh perjalanan yang sangat lengkap, dan sangat menyenangkan.

SXC2 Goes to Baduy #1

Assalamualaikum Wr Wb,
Salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita tetap dilindungi oleh Allah SWT, amin.  Jum’at 22 April 2011 merupakan hari libur nasional, kami pun berencana untuk gowes ke Baduy, walaupun gowesnya ga sampe Baduy tapi kami gowes dari Serang sampe Ciboleger. Pagi itu langit tampak cerah, matahari pun tampak ceria menyinari dunia, sungguh nikmat yang patut kita sukuri, dan kita pun harus memfaatkannya dengan berolahraga. Pukul 6.30 saya berangkat menuju tikum, segala persiapan untuk perjalanan ke Baduy pun sudah dipersiapkan dari semelam kecuali tinggal sarapan yang belum dipersiapkan. Saya putuskan untuk makan nasi uduk sebelum tikum, ternyata sudah ada Pak Agus , Pak Yusman dan anak Pak Yusman (Ihsan) sedang sarapan. Saya pun ikut gabung untuk sarapan, mengingat track nya jauh dan berat. Setelah sarapan kami menuju tikum, dan terimakasih Pak Agus yang sudah membayarkan sarapannya.
Di titik kumpul ternyata sudah banyak goweser yang sudah siap, ada Pak Mars, Pak Danar, Pak Dono, Pak Yopie, Pak Koes, Pak Agus, Pak Didit, Pak Topik, Pak Supri, Pak Dodo cozmic, Om Iyan,  Pak Zaenal, Pak Aam, Pak Roni, Pak Yusman, Pak Hendra dan Saya Vito. Tidak lama kemudian datanglah Indra yang sudah lama ga gowes bareng lagi karena sedang pendidikan. Dia datang dengan membawa Kamera SLR barunya. Setelah semua siap, seperti biasa kami membentuk lingkaran, lalu berhitung dan berdoa memohon keselamatan untuk perjalanan berangkat sampai pulang kerumah nanti.  Tidak lupa untuk berfoto dulu sebelum berangkat, mumpung ada fotografer, hehe. Setelah berfoto kami pun langsung berangkat, Pak Hendra dan Pak Yusman tidak ikut, begitu juga dengan Pak A’I, Pak Imam, dan Pak Deni yang sudah daftar tetapi ada halangan. Pak Zaenal berangkat dengan mengendarai mobil sampe Rangkas, otomatis tas-tas kami yang gede-gede pun dititipkan di mobil Pak Zaenal, terimakasih Pak, sangat membatu perjalanan kami. Pak Dodo cozmic yang katanya lupa bawa obat pun bergegas pulang dulu, dan dia katanya akan menyusul. Tepat pukul 07.00 kami SXC2 berangkat menuju Baduy.  
Rute perjalanan kami melalui Cipocok lalu ke Petir diteruskan ke Tunjung  lalu menelusuri Jalan Cibadak hingga ke Rangkas. Ketika menyusuri Jalan Cipook, kami bertemu dengan Pak A’I yang tidak bisa ikut perjalanan kali ini karena anaknya sedang sakit, semoga cepat sembuh pak. Kontur jalan dari Cipocok sampe Petir, relatif onroad tetapi agak sedikit banyak lubang-lubang kecil di bibir jalan.  Jalan onroad relatif bagus ini hanya sampai Pasar Petir saja, lalu seterusnya jalan onroad relatif rusak bermakadam. Truk-truk yan melintas meninggalkan debu-debu  di belakangnya yang otomatis terkena kami, kebanyakan dari truk-truk itu jalannya ngebut dan tidak memikirkan keselamatan pengguna jalan yang lain. Sampai di pertigaan tunjung kami berhenti menunggu rombongan belakang. Lalu kami belok kekanan, ambil jalan arah Warunggunung. Kata Om Iyan, jalannya lumayan naik turun. Rombongan belakang pun datang, lalu kami yang sudah rehat sebentar, melanjutkan perjalanan kami. Kata Pak Ketu, kita harus menjaga jarak, diamana ketika rombongan belakang sampe maka rombongan depan jalan duluan, heheh. Benar saja, jalan pun mulai terasa naik turun, ditambah kontur jalannya rusak. Pak Zaenal pun masih setia mengikuti kami dari belakang dengan mobilnya. Sampai di pertigaan Cibadak, kami berbelok kiri ambil jalan arah ke Cibadak Rangkas. Di warung konter kami rehat lagi menunggu rombongan belakang dan Pak Dodo cozmic yang pastinya jauh ketinggalan karena harus pulang dulu ketika di tikum tadi. Ketika Pak Ketu datang, beliau langsung melihat cewe dan berkata ”wah ada cewe tuh”, saya pun langsung sontak menengok ke belakang dan ternyata f a t a m o r g a n a, itu sih kebo bukan cewe (¬_¬”!), hahah. Pak  Mars dan romobongan belakang pun datang, disusul Pak Dodo cozmic yang akhirnya datang juga. Seperti biasa, rombongan belakang datang, rombongan depan jalan duluan. Jalan Cibadak ini onroad tetapi masih banyak juga tanjakan dan turunan, nah tanjakan disini lah yang membuat Om Iyan merasa tertantang ketika ada Pak Ketu di belakangnya, dan akhirnya Om Iyan pun mulai merasa keram ketika sampai di i***maret Rangkas. Sampai di i***maret sudah menunggu Pak Dida yang masih segar bugar tanpa keringat sedikit pun di wajahnya. Kami pun segera membeli air minum untuk menghilangkan rasa haus dan lelah kami. Setelah rehat dan berkumpul semuanya, kami meluncur kerumah Pak Dida untuk rehat lebih lamanya. Menyusuri jalan Jendral Ahmad Yani lalu diteruskan ke Jalan Multatuli. Kota Rangkas begitu tampak rapih dan bersih, begitu nyaman dipandangnya, itulah yang saya lihat dari Kota Rangkas.
Sampai di rumah Pak Dida di Jalan Ir. H Juanda, kami beristirahat untuk menyantap makan yang sudah disediakan. Sambil mengobrol dan menyantap hidangan yang ada kami melepas lelah kami, tetapi perjalanan kami belum selesai sampai disini, kami harus melanjutkan perjalanan, mengingat sekarang adalah hari Jum’at, dimana kami harus mencari Masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at. Setelah siap dari rehatnya, kami melanjutkan perjalanan, dan kami kali ini beruntung lagi karena tas-tas kami yang harusnya dibawa samapai Ciboleger kini dititipkan di mobil Pak Zaenal, karena Pak Dida berencana hanya ikut gowes sampe Ciboleger, tidak ikut ke Baduy. Pak Zaenal mulai menurunkan sepedanya dari mobil. Ban sepeda Pak Zaenal sudah diganti dengan ban onroad, jadi lebih enak melahap track onroad.  Goweser kali ini bertambah 2 yaitu Pak Zaenal dan Pak Dida, jadi total goweser yang menuju Ciboleger 16 goweser. Kami berangkat ± pukul 10.15, melewati alun-alun Rangkas lagi lalu menyusuri Jalan Raya Leuwidamar dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam. Kontur jalan onroad relatif rusak dan agak sedikit becek, tetapi datar tidak terlalu menanjak.  Sebelum kecamatan Cimarga, kami melihat sebuah danau besar dengan bendungannya. Kami tertarik untuk melihat sebentar dan bertanya kepada warga yang sedang santai ditempat, ternyata nama tempatnya Palayangan. Tidak lupa untuk berfoto sejenak. Setelah itu kami lanjut gowes sambil mencari masjid. Panas matahari sangat menyengat, ditambah debu-debu dijalanan yang bertebaran akibat mobil yang melaju kencang, padahal jalanan rusak. Waktu sudah menunjukan pukul 11.30, kami menemukan masjid yang biasa di pake sholat Jum’at. Letak masjid berada di desa Pasir Bungur Kec. Cimarga. Kami memutuskan untuk sholat Jum’at disini. Yang aneh dari Mesjid ini adalah warganya yang setelah selesai sholat jum’at, mereka langsung bangun dan melaksanakan sholat lagi, sholat apaan tuh ya??.  Setelah sholat Jum’at kami menarik jadwal makan yang seharusnya di ciboleger dipindahkan sekarang. Karena mengingat sudah masuk jam makan siang dan goweser pun pada kelaparan,hahah. Setelah makan dan persiapan, kami melanjutkan perjalanan. Panas matahari masih menemani kami, tetapi di depan sana langit tampak mendung. Benar saja doa-doa para goweser yang mengharapkan hujan, akhirnya datang juga ketika kami sudah memasuki desa Sudamanik. Perlengkapan elektronik pun kami titipkan pada mobil yang masih mengawal perjalanan kami. Memang paling enak kalo gowes sambil hujan-hujanan itu, kita ga akan sakit, karena didalam tubuh kita masih hangat akibat kita tetap bergerak/gowes, dan yang lebih enak lagi adalah jalanan milik sepeda, karena tidak ada motor yang berani melintas kecuali mobil. Oiyah dan satu lagi, enaknya gowes sambil hujan-hujannan itu bisa pipis dicelana, kata Om Iyan, waduh masih sempet-sempetnya aja gitu? Hahah.
Sesampainya di pertigaan Cisimeut kami berhenti menunggu rombongan belakang. Di pertigaan ini kami berbelok kekanan arah Ciboleger, sebenarnya lurus juga bisa, akan tetapi jalannya agak rusak dan lebih jauh menurut informasi dari tukang ojek yang berada di pertigaan ini. Ternyata tantangan perjalanan kami mulai baru terasa ketika kami berbelok di pertigaan Cisimeut ini. Tanjakan langsung menyambut kami ketika kami baru saja mendapatkan turunan dari pertigaan ini. Untung hujan menemani perjalanan kami, jadi tanjakan securam apapun hanya terasa lelah sedikit. Ada tanjakan yang begitu panjang, curam dan tinggi, tetapi pada titik puncak tanjakan ini terlihat jelas indahnya pemandangan bukit-bukit disebelah kiri jalan. Subhanallah, sungguh alam yang sangat indah, Maha Besarnya Engkau yang telah mencipatakan alam seindah ini. Saya berhenti sejenak karena tertarik untuk melihat pemandangannya. Disusul Pak Dodo cozmic , Pak Supri dan Pak Danar lalu kami berfoto sejenak dengan background pemandangan bukit-bukit yang indah. Untung saja Pak Danar membawa kamera walaupun cuaca hujan. Titik tertinggi ini jadi tempat rehat kami sejenak sambil menunggu rombongan belakang.  Dapat kabar dari Pak Mars bahwa tadi dibelakang ada pohon tumbang. Untung saja segera di singkirkan oleh Pak Mars dan Pak Koes, karena banyak sekali mobil truk yang melintas disini, apalagi kondisi jalannya menanjak curam. Ketika kami sudah berkumpul semua, datang temannya Pak Zaenal, yaitu Pak Surya yang katanya ikut gabung gowes ketika di pertigaan Cisimeut. Beliau menunjukan tujuan kita (Ciboleger) pada pemandangan bukit-bukit disebelah kiri. Katanya Ciboleger itu terletak di bukit yang paling ujung yang berasap itu, dan kita harus melalui 5 tanjakan curam lagi (namun pada kenyataannya lebih dari 5). Sontak kaget lah kami semua, tapi tidak apa-apa, itu menjadikan motivasi buat kami, ternyata bukit ini hanyalah sebagian kecil dari bukit-bukit lain, masih banyak tantangan di depan sana yang harus dihadapi. Lalu kami gowes kembali, hujan tidak lagi menemani perjalanan kami, tetapi tanjakan dan turunan masih setia menemani kami, tentunya pemandangan yang sangat indah yang menjadi backgroundnya. Sampai pada pertigaan Bojongmanik Mobil Pak Zaenal yang di kendarai oleh Adik Pak Dida sudah menunggu dan menunjukan arah berbelok kekiri, yaitu arah menuju ciboleger.
Pertigaan Bojongmanik, kami harus berbelok kekiri apabila ingin hendak ke Ciboleger.  Dari pertigaan Bojongmanik kami mulai merasakan puncak tantangan terberat kami, banyaknya turunan curam yang membahayakan, dan tanjakan curam yang memberatkan. Apalagi kami sudah mulai tercecer, jadi menanjakpun terasa berat apabila hanya sendirian.  Tetap ini harus dijadikan sebuah latihan buat nanti dalam melahap track-track yang berat. Ada dimana turunan curam dengan kontur jalan onroad relatif rusak langsung dihadapkan dengan tanjakan berbelok yang tidak memungkinkan untuk di tanjak, tetapi pada puncak tanjakan berbelok itu ada jalan pintas yaitu sedikit jalan tanah yang bisa dilewati. Semua goweser pun punya pemikiran yang sama, yaitu mengambil jalan tanah tersebut, karena kalo  mengambil jalan onroadnya pasti akan jatuh, begitulah cerita para goweser yang mengalaminya.  Ketika saya sedang lelah-lelahnya menanjak terlihat di depan ada Pak Dodo cozmic yang sedang menanjak pula. Langsung saja saya teriak memanggil beliau, dan beliau pun kaget lalu behenti. Sampai di puncak tanjakan Saya dan Pak Dodo berhenti dengan nafas terengah-engah, karena tanjakan yang merupakan tanjakan terakhir memang sangat curam. Lalu saya bertanya kepada warga yang ada di situ, “Pak Ciboleger masih jauh atau tidak?”. Lalu jawab si bapak “sudah deket, itu di depan tinggal turun”. Wah langsung saja Saya dan Pak Dodo mengambil sepeda menuju Ciboleger yang ternyata di depan mata. Katanya di Ciboleger ada Market ternama yaitu a****mart. Langsung saja terpikir dibenak saya, kalo nanti sampe langsung menuju market tersebut, karena perut sudah lapar dan persedian air minum pun habis.
“Selamat Datang Di Ciboleger” begitulah yang tertulis pada tugu Selamat datang yang di atasnya berdiri patung seorang Keluarga dengan dua orang anak  (laki-laki dan perempuan) dan mereka mengangkat tangan kirinya seakan menyambut kami yang baru sampai, dan itu membuat kami tersenyum lebar walaupun bagaimana lelahnya perjalanan kami. Saya dan Pak Dodo datang pukul ± 15.30 danLangsung memutari tugu yang berbentuk lingkaran itu, karena menurut Saya kalo naik sepeda ke Ciboleger ga muterin tuh tugu rasanya kurang afdol,hahah. Setelah muterin tuh tugu Saya langsung menuju a****mart, sebelum masuk saya periksa kantong, dan ternyata baru inget kalo dompet tuh ada di mobil, hahah, terpaksa deh ke warung sebelah a****mart, biar bisa bayar nanti. Ketika Saya pesan minum dan makan, datenglah seorang perempuan berkerudung dengan kacamata di wajahnya menghampiri kami. “rombongannya Pak Agus yak?” tanya perempuan itu dan saya pun respon menjawab “iyah!!”. Setelah sedikit berbincang saya langsung ambil kesimpulan, ooh ternyata perempuan itu adalah Tim BPI (BackPacker Indonesia) yang akan menemani perjalanan kami dan ada satu lagi temannya (perempuan) yang sedang duduk di dalam warung.
Ketika Saya dan Pak Dodo sudah selesai makan, datenglah Om Iyan dengan tenaga coklat yang di konsumsinya selama tanjakan terakhir, cetusnya saat menghampiri kami. Memang dari pertigaan Bojongmanik sampe Ciboleger adalah puncak terberat gowes kami, karena konturnya naik turun bukit. Disini terjadilah seleksi alam, yang membuat kami tercecer menjadi banyak bagian. Tidak lama kemudian rombongan belakang lainnya pada berdatangan. Mereka datang pukul ± 16.30, tepat sejam setelah kedatangan kami. Lalu kami pun bertemu dengan Tim BPI tadi yang sudah menunggu kami, yaitu Mba Fido dan Mba Opi. Setelah berbincangan dan berkumpul semua berkumpul semua kami pun berfoto sejenak bersama Tim BPI di depan tugu selamat datang, agar membuktikan bahwa kami pernah kesini dengan menggunakan sepeda. Setelah berfoto-foto, kami diberikan waktu mempersiapkan diri untuk hiking ke penginapan di Baduy Luar. Jangan lupa untuk beli makanan-makanan untuk di kampung baduy, karena tidak ada yang jual nasi ataupun roti.

Rabu, 20 April 2011

Tanjakan 45 Sayar - Rumah Hutan

Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang begitu terang di ufuk timur, semangat untuk beraktivitas pun tak luput di pagi yang cerah ini. Hari ini, hari Sabtu, 16 April 2011, merupakan jadwal gowes kali ini. Jam 6.30 saya berangkat dari rumah menuju titik kumpul Halaman KPP. Sebelum ke tikum (titik kumpul) saya melihat Pak A’I, Pak Yopie dan Om Iyan sedang sarapan di kupat sayur, langsung aja saya ikut nimbrung untuk sarapan juga. Terimakasih untuk Pak A’I yang sudah membayarkan sarapannya. Setelah sarapan kami menuju tikum, di Halaman KPP  sudah menunggu Pak Mars, Pak Danar dengan jersey kuning baru nya, Pak Imam dan Kang Ola yang baru saja datang. Wah tampaknya goweser sabtu mulai berkurang, dan wajah-wajahnya pun itu itu saja yang gowes, tidak ada pertambahan dalam komunitas kami. Apakah komunitas kami extreme dalam bersepeda? Padahalkan sebenarnya kami bersepeda sewajarnya dan tidak terlalu  extreme, hahah. Tapi yang jelas harus ada semacam open recruitment, karena di Serang ini sudah banyak yang bersepeda tentunya MTB bukan fixie,  tapi mereka hanya terlihat begitu saja, tidak tau kemana arah tujuan mereka menggowes.  Kembali ke Halaman KPP, dapat kabar dari Pak Imam kalo Pak Hepy katanya mau ikut gowes dan sedang dalam perjalanan menuju KPP. Setalah Pak Hepy datang, tepat pukul 7.30, kami langsung berangkat dengan tujuan tanjakan 45 Sayar. Sepertinya waktu keberangkatan gowes mulai semakin molor dari biasanya. Di perempatan Sumurpecung kami bertemu Pak Dodo Cozmic, dan terkumpul lah 10 goweser yang siap menuju tanjakan 45, ada Pak Mars, Pak Danar, Pak Imam, Pak A’i, Pak Yopie, Om Iyan, Kang Ola, Pak Hepy, Pak Dodo cozmic, dan saya Vito.
Track menuju tanjakan 45 kali ini tidak lagi lewat cikulur yang konturnya onroad, tetapi kami lewat Sepang, lalu sebelum SD Sepang kami berbelok kekanan dengan kontur jalan nya makadam kecil. Sampai di pertigaan Madrasah Nurul Almi (kalo ga salah) belok kanan, nah setelah belok kanan tadi kami akan bertemu jalan hutan yang konturnya makadam, sangat disayangkan sekali track hutan ini dengan kontur makadam, coba aja konturnya tanah, mungkin lebih seru lagi nih. Track hutan ini agak sedikit menanjak dengan ujung nya tepat di desa pas tanjakan 45. Apabila kita lewat jalan cikulur maka kita akan melihat sawah-sawah yang membentang luas dengan background bukit-bukit di sebelah kiri kita, nah disitulah ujung track hutan sayar. Tidak lupa untuk berpose sejenak dengan pemandangan yang indah ini. Setelah itu kami langsung berhadapan dengan tanjakan 45, shifter pun langsung kami mainkan, badan pun mulai kami bungkukan kedepan, semuanya itu untuk mendapatkan hasil maksimal dalam menanjak, dan tidak lupa pula ayunan kaki harus tetap stabil, jangan terlalu memaksakan dan jangan terlalu bergerak cepat. Sesampainya di puncak tanjakan 45 kami rehat sebentar sambil menunggu yang dibelakang. Sambil ngobrol-ngobrol, kami memperbincangkan selanjutnya ke arah mana, kekiri dalung apa kekanan cilowon, dan banyak goweser yang ingin ke Rumah Hutan via bojong. Setelah semuanya setuju dan yang rombongan belakang pun sampe, kami berangkat menuju Rumah Hutan.
Setelah sampai di kampung bojong, kami pun diberi jalan alternatif lain untuk menuju Rumah Hutan, apabila jalan sebelumnya itu kami harus menyebrangi sungai kecil yang tidak ada jembatannya, nah kali ini kami lewat jalan lain yang ada jembatannya. Tracknya lumayan panjang dengan kontur tanah dan menurun, tetapi setelah jembatan langsung menanjak sedikit. Ternyata track ini berujung di Rumah Hutan arah ke Pancanegara tepatnya di kebun singkong sebelah Rumah Hutan. Sesampainya di Rumah Hutan, ternyata banyak goweser yang sedang rehat, rata-rata mereka dari bojong juga, tidak lewat pereng. Langsung saja kami ambil posisi untuk rehat dan pesan teh manis hangat. Sambil rehat kami mengobrol-ngobrol lagi sejenak mengulas tentang pengalaman-pengalam gowes yang selama ini menjadi kenangan indah dan kenangan pribadi, semuanya itu dalam penuh canda tawa.
Teh manis hangat pun sudah kami habiskan pengganti energi yang terkuras setelah perjalanan tadi. Kami pun bersiap-siap untuk perjalanan pulang. Track pun kami tentukan lewat cidampit lalu keluar cilowong. Berbeda pada edisi sebelumnya (Rumah Hutan Edisi Sekian) kami pulang lewat track hutan yang dibalik lalu keluar Pereng. Tapi kali ini kita lewat cidampit, karena waktu yang sudah siang. Tak asing lagi dengan kontur track cidampit arah ke cilowong, yaitu menanjak dan makadam kecil.
Sampai di ujung tanjakan yaitu  Jalan Raya Gunung Sari, kami rehat sebentar di warung sambil menunggu rombongan belakang.  Sambil menunggu rombongan belakang Pak Dodo cozmic pun harus  memperbaiki FD sepedanya yang rusak. Setelah ditelusuri ternyata kabel FD nya putus, sehingga Pak Mars pun mengganjel FD nya dengan Batu, karena Pak Mars sudah pengalaman dalam ganjel-mengganjel sesuatu, hahah (ganjel FD maksudnya). Rombongan belakang pun sampai, begitu juga dengan sepeda Pak Dodo cozmic yang sudah diperbaiki, lalu kami pun melanjutkan perjalanan pulang kami. Melalui track onroad Jalan Raya Taktakan kami pun memacu sepeda kami sekencang mungkin, karena konturnya menurun terus sampai Taktakan. Titik pisah kami pun di Brimob. Saya, Pak Yopie, Pak A’I dan Pak Heppy tetap beriringan sampai Kebon Jahe dan kami pun berpisah disini.  Saya dan Pak Yopie mampir dulu ke Es Kuwut, memang paling enak seusai gowes dan ditemani terik panas matahari menikmati asam manis Es Kuwut. Sayang sekali Indra tidak bisa menikmati kebersaman minum Es Kuwut ini sama Pak Yopie dan Saya karena dia sedang Pendidikan di luar kota. Setelah menikmati Es Kuwut kami pun pulang, terimakasih Pak Yopie buat Es Kuwutnya. Alhamdulillah sampai rumah tidak terlalu sore. Biasanya gowes sabtu bisa sampe sore bahkan malam, itu membuktikan bahwa stamina gowes SXC2 bertambah dan ditambah track di wilayah Serang sudah habis kali yaa.. hehe. Apapun itu kami tetap SXC2 yang penuh canda tawa dan kebersamaan gowes yang erat.

Jumat, 15 April 2011

Kepala Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota

Kepala Daerah
Kepala daerah adalah pimpinan lembaga yang melaksanakan peraturan perundangan. Dalam wujud konkritnya, lembaga pelaksana kebijakan daerah adalah organisasi pemerintahan. Kepala daerah menyelenggarakan pemerintahan di daerahnya. Kepala daerah provinsi disebut gubernur, kepla daerah kabupaten disebut bupati, kepala daerah kota disebut walikota.
Dalam UU No. 32/2004 pasa 25 sampai 26 yaitu Tugas, Wewenang dan Kewajiban Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditentukan sebagai berikut.
Tugas dan Wewenang Kepala Daerah :
  1. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD
  2. Mengajukan rancangan Perda
  3. Menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD
  4. Menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama
  5. Mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah
  6. Mewakili daerahnya didalam dan diluar pengadilan, dan dapat menujuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan
  7. Melaksanakan tugas dan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Tugas Wakil Kepala Daerah :
  1. Membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah
  2. Membantu kepala daerah dalam mengkoordinasikan kegiatan instansi vertikal di daerah, menindaklanjuti laporan dan temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, melaksanakan pemberdayaan perempuan dan pemuda, serta mengupayakan pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup
  3. Memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan kabupaten dan kota bagi wakil kepala daerah provinsi
  4. Memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan, kelurahan dan desa bagi kepala daerah kabupaten/kota
  5. Memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintah daerah
  6. Melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintah lainnya yang diberikan oleh kepala daerah
  7. Melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah berhalangan
Dalam melaksanakan tugasnya wakil kepala daerah bertanggungjawab kepada kepala daerah. Apabila kepala daerah meninggal dunia, berhenti, diberhentikan atau tidak dapat melakukan kewajibannya selama 6 bulan secara terus-menerus dalam masa jabatannya, maka wakil kepala daerah dapat menggantikan kepala daerah sampai habis masa jabatannya.
   Dalam melaksankan tugas dan wewenangnya, kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban :
  1. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksankan UUD 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan NKRI.
  2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat.
  3. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat.
  4. Melaksanakan kehidupan demokrasi.
  5. Menaati dan menegakan seluruh peraturan perundang-undangan.
  6. Menjaga etika dan norma dalam menyelenggarakan pemerintah daerah.
  7. Memajukan dan mengembangkan daya saing daerah.
  8. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik.
  9. Melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerah.
  10. Menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah.
  11. Menyampaikan rencana strategis penyelenggaraan pemerintahan daerah di hadapan rapat paripurna DPRD.
Undang-Undang No. 32/2004 juga mengatur tentanga larangan bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagaimana tertera pada pasal 28, yaitu :
  1. Membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi diri sendiri, anggota keluarga, kroni, golongan tertentu, atau kelompok politiknya yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, merugikan kepentingan umum, dan meresahkan sekelompok masyarakat, atau mediskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain.
  2. Turut serta dalam perusahaan, baik milik swasta maupun milik negara/daerah, atau dalam yayasan bidang apapun.
  3. Melakukan pekerjaan lain yang memeberikan untung bagi dirinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang berhubungan dengan daerah yang bersangkutan.
  4. Melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, dan menerima uang barang dan jasa dari pihak lain yang mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukan.
  5. Menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatau perkara dipengadilan selain yang dimaksud dalam pasal 25 pada opsi 6.
  6. Menyalahgunakan wewenang dan melanggar sumpah/janji jabatannya.
  7. Merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, sebagai anggota DPRD sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
UU no. 32/2004 pasal 29 mengatur tentang pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah, yaitu :
  1. Meninggal dunia.
  2. Permintaan sendiri.
  3. Diberhentikan karena :
  • Berakhir masa jabatannya dan dilantik pejabat yang baru.
  • Tidak dapat melaksanakan tugasnya secara berkelanjutan atau berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 bulan.
  • Tidak lagi memenuhi syarat sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah.
  • Dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan kepala daerah dan wakil kepala daerah.
  • Tidak melaksanakan kewajiban kepala daerah dan wakil kepala daerah.
  • Melanggar larangan bagi kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Kepala Daerah Pemerintah Provinsi

Untuk daerah provinsi, lembaga pelaksana kebijakan daerah adalah pemerintah provinsi yang dipimpin oleh gubernur. Dalam menjalankan tugasnya gubernur dibantu oleh perangkat pemerintah provinsi, mereka disebut birokrat. Dalam lingkup sempit tugas pokok gubernur sebagai representasi lembaga pelaksana kebijakan daerah adalah melaksanakan kebijakan yang dibuat bersama lembaga DPRD Provinsi. Namun dalam praktiknya ruang lingkup tugas gubernur lebih luas lagi, yaitu melaksanakan semua peraturan perundang-undangan baik yang dibuat bersama DPRD Provinsi, DPR dan Presiden, maupun lembaga eksekutif pusat sebagai oprasionalisasi undang-undang. Gubernur adalah kepala daerah otonom sekaligus kepala wilayah administrasi. Sebagai kepala daerah otonom gubernur adalah kepala pemerintahdaerah provinsi, yang bertanggung jawab kepada rakyat daerah setempat. Sedangkan sebagai kepala wilayah administrasi, gubernur adalah wakil pemerintah pusat diwilayah administrasi provinsi yang bersangkutan. Adanya kedudukan ganda pada gubernur tersebut karena pemerintah pusat menyerahkan kewenangan (desentralisasi) kepada daerah provinsi dan melimpahkan kewenangan (dekonsentrasi) kepada gubernur selaku wakil pemerintah. Dalam statusnya sebagai kepala daerah otonom, gubernur dan perangkatnya adalah pelaksana kebijakan daerah. Sedangkan dalam kedudukannya sebagai kepala wilayah administrasi, gubernur dan perangkatnya adalah pelaksana kebijakan pemerintah pusat.

Kepala Daerah Pemerintah Kabupaten

Lembaga pelaksana kebijakan daerah kabupaten adalah pemerintah kabupaten yang dipimpin oleh bupati. Pemerintah kabupaten bukan bawahan provinsi tapi sesama daerah otonom. Bedanya, pertama wilayahnya lebih kecil daripada wilayah provinsi, kedua, wilayahnya dibawah koordinasi suatu provinsi, dan ketiga, sistem pemerintahannya hanya berasaskan desentralisasi. Hubungannya adalah hubungan koordinatif. Maksudnya, pemerintah kabupaten yang daerahnya termasuk dalam suatu provinsi tertentu merupakan daerah otonom dibawah koordinasi pemerintah provinsi bersangkutan. Bupati dan aparatnya adalah pelaksana peraturan perundangan dalam lingkup kabupaten (Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah). Dalam lingkup sempit, bupati dan perangkatnya adalah pelaksana kebijakan/peraturan daerah yang dibuat bersama dengan DPRD Kabupaten. Akan tetapi, dalam praktiknya ruang lingkup tugas bupati dan perangkatnya lebih luas, yaitu sebagai pelaksana Peraturan Daerah dan pelaksana semua peraturan perundangan baik yang dibuat oleh DPR dan Presiden, Presiden, mentri, dan gubernur. Pemerintah kabupaten adalah daerah otonom penuh, karena hanya berasaskan desentralisasi. Bupati dipilih langsung oleh warga kabupaten melalui pemilihan umum. Oleh karena itu, bupati bertanggungjawab kepada warga kabupaten.

Kepala Daerah Pemerintah Kota

Daerah otonom setara dengan kabu[aten adalah pemerintah kota. Sebelum UU No. 22/1999 pemerintah kota disebut Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II. Menurut UU No. 22/1999 juga UU No.32/2004 nomenklatur tersebut berubah menjadi pemerintah kota saja. Pemerintah kota juga berasaskan desentralisasi sama dengan kabupaten. Hal yang membedakan adalah pemerintah kota bersifat perkotaan sedangka pemerintah kabupaten bersifat pedesaan. Pemerintah kota wilayahnya perkotaan dengan ciri utama sebagai pusat perdagangan, pelayanan, industri, dan jasa. Seperti halnya kabupaten, pemerintah kota juga bukan bawahan pemerintah provinsi. Pemerintah kota adalah daeah otonom lain dibawah koordinasi pemerintahaan provinsi. Artinya pemerintah kota yang berada dalam suatu wilayah provinsi merupakan daerah otonom dalam wilayah koordinasi pemerintah provinsi yang bersangkutan. Pemerintah kota dipimpin oleh walikota. Walikota dan perangkatnya adalah pelaksana kebijakan daerah kota yang dibuat bersama DPRD Kota. Namun sebagai bagian dari pelaksana kebijakan pemerintah nasional, walikota juga pelaksana semua peraturan perundangan baik yang dibat bersama DPRD Kota, DPR dan Presiden, Presiden, mentri maupun gubernur. Peraturan perundangan yang sah harus dilaksanakan sebaik-baiknya oleh walikota. Walikota dipilih langsung oleh warga kota melalui pemilihan umum. Oleh karena itu, walikota bertanggungjawab kepada warga kota.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More