Hari Pertama di Lombok
Pagi pertama di Lombok, kami pun siap memulai petualangan baru, hari Minggu tanggal 11 November 2012. Setelah kami mandi dan menyantap sarapan yang di sediakan oleh keluarga Om Rudi, kami pun siap-siap untuk menuju Gili Trawangan yang menjadi tujuan utama kami. Sekitar pukul 9.30 WITa kami siap berangkat dan Alhamdulillah Om Rudi dan istrinya mau mengantarkan kami sampai ke Prempatan Rembiga, dimana dari perempatan ini ada angkutan umum yang langsung menuju Pelabuhan Bangsal. Dari Labu Api sampai perempatan Rembiga kira-kira sekitar 30 menit. Kami pun melewati Bandara Salamparang Lombok, yang kini keadaanya sudah tidak terurus, kira-kira sudah setahun lebih Bandara Lombok di pindahkan ke Lombok Tengah dengan nama Bandara Internasional Lombok (BIL). Mungkin karena Bandara Salamparang ini lahan nya tidak memadai untuk penerbangan luar negeri dan fasilitasnya juga mungkin tidak begitu cukup baik, jadi Bandara nya dipindahkan. Sesampainya di perempatan Rembiga, kami membeli perbekalan di warung terdekat, menurut saran Om Rudi katanya harga makanan dan minuman di Gili Trawangan mahal-mahal, jadi lebih baik bawa perbekalan dari sini. Setelah tas kami pull dengan amunisi, kami pun sudah di carter oleh sopir angkot yang siap mengantarkan kami sampai Pelabuhan Bangsal dengan harga Rp. 50.000 bertiga. Tanpa basa-basi kami pun langsung naik angkotnya dan siap berangkat. Perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal ini kita melewati jalur pegunungan yang dinamakan Hutan Kusut yang masih sangat asri di pandang mata. Jalur yang berbelok-belok sudah tidak asing lagi, begitu juga tanjakan dengan panjang kira-kira sekitar 10 Km. Hingga ujung puncak tanjakan ini terdapat tempat peristirahatan dan di puncak ini juga merupakan perbatasan antara Kabupaten Lombok Barat dengan Kabupaten Lombok Timur. Setelah melewati puncak dan perbatasan baru lah kontur jalan mulai menurun. Ketika kita menuruni pegunungan ini, ada sesuatu yang membuat saya sangat tertarik dan senang, yaitu melihat pemandangan indah di sebrang kiri sana dan melihat monyet-monyet yang berjejer di pinggir jalan sepanjang turunan seperti pager ayu dan pager bagus yang menyambut kedatangan tamu nya. Monyet-monyet tersebut duduk dan sambil melihat lalu lalang kendaraan yang lewat. Bahkan ada beberapa kendaraan yang berhenti untuk memberi makan kepada monyet-monyet tersebut. Sungguh pemandangan yang sangat menarik, seperti di Taman Safari, hahah. Saya pun yang duduk di samping sopir coba mengabadikannya lewat iPhone, walaupun hasilnya kurang yang penting dapet moment nya.
Pagi pertama di Lombok, kami pun siap memulai petualangan baru, hari Minggu tanggal 11 November 2012. Setelah kami mandi dan menyantap sarapan yang di sediakan oleh keluarga Om Rudi, kami pun siap-siap untuk menuju Gili Trawangan yang menjadi tujuan utama kami. Sekitar pukul 9.30 WITa kami siap berangkat dan Alhamdulillah Om Rudi dan istrinya mau mengantarkan kami sampai ke Prempatan Rembiga, dimana dari perempatan ini ada angkutan umum yang langsung menuju Pelabuhan Bangsal. Dari Labu Api sampai perempatan Rembiga kira-kira sekitar 30 menit. Kami pun melewati Bandara Salamparang Lombok, yang kini keadaanya sudah tidak terurus, kira-kira sudah setahun lebih Bandara Lombok di pindahkan ke Lombok Tengah dengan nama Bandara Internasional Lombok (BIL). Mungkin karena Bandara Salamparang ini lahan nya tidak memadai untuk penerbangan luar negeri dan fasilitasnya juga mungkin tidak begitu cukup baik, jadi Bandara nya dipindahkan. Sesampainya di perempatan Rembiga, kami membeli perbekalan di warung terdekat, menurut saran Om Rudi katanya harga makanan dan minuman di Gili Trawangan mahal-mahal, jadi lebih baik bawa perbekalan dari sini. Setelah tas kami pull dengan amunisi, kami pun sudah di carter oleh sopir angkot yang siap mengantarkan kami sampai Pelabuhan Bangsal dengan harga Rp. 50.000 bertiga. Tanpa basa-basi kami pun langsung naik angkotnya dan siap berangkat. Perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal ini kita melewati jalur pegunungan yang dinamakan Hutan Kusut yang masih sangat asri di pandang mata. Jalur yang berbelok-belok sudah tidak asing lagi, begitu juga tanjakan dengan panjang kira-kira sekitar 10 Km. Hingga ujung puncak tanjakan ini terdapat tempat peristirahatan dan di puncak ini juga merupakan perbatasan antara Kabupaten Lombok Barat dengan Kabupaten Lombok Timur. Setelah melewati puncak dan perbatasan baru lah kontur jalan mulai menurun. Ketika kita menuruni pegunungan ini, ada sesuatu yang membuat saya sangat tertarik dan senang, yaitu melihat pemandangan indah di sebrang kiri sana dan melihat monyet-monyet yang berjejer di pinggir jalan sepanjang turunan seperti pager ayu dan pager bagus yang menyambut kedatangan tamu nya. Monyet-monyet tersebut duduk dan sambil melihat lalu lalang kendaraan yang lewat. Bahkan ada beberapa kendaraan yang berhenti untuk memberi makan kepada monyet-monyet tersebut. Sungguh pemandangan yang sangat menarik, seperti di Taman Safari, hahah. Saya pun yang duduk di samping sopir coba mengabadikannya lewat iPhone, walaupun hasilnya kurang yang penting dapet moment nya.
Pukul
11.15 WITa akhirnya kami sampai di Pelabuhan Bangsal. Pelabuhan Bangsal ini
tempat penyebrangan menuju 3 Gili, yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili
Trawangan. Dari sini juga terlihat cukup dekat ketiga Gili tersebut. Kami pun tidak sabar untuk
menginjakan kaki di Gili Trawangan. Tanpa terasa, dengan modal nekat dan budget
minim akhirnya kami selangkah lagi menuju Gili Trawangan. Langsung saja kami
menuju loket tiket perahu untuk membeli tiket perahu publik dengan harga Rp.
10.000/orang, tentunya perahu harus sampai kuota 20 orang baru akan berangkat.
kami kebagian tiket yang berwarna kuning, jadi setiap warna terdapat 20 orang
yang siap menaiki Public Boat. Setelah
tiket biru sudah naik semua dan berangkat, kemudian giliran tiket kuning yang
siap berangkat, dan itu tiket kami. Tak sabar, kami pun langsung menaiki Public Boat dan mengambil posisi duduk.
Sekitar pukul 11.45 WITa Public Boat kami
pun berangkat menuju Gili Trawangan. Saya pun melihat orang-orang yang duduk di
perahu ini, saya pikir pasti mereka dari berbagai macam daerah. Tepat disebalah
saya ada 2 orang yang membawa peralatan komputer, dan saya pun penasara
bertanya kepada orang tersebut. Ternyata orang yang disebelah saya orang Tangerang
namanya a Imam dan katanya di juga sering ke Serang tepatnya ke Pasar Rau,
karena ada sodaranya disana. Dia ke Lombok ini ikut bareng kakaknya untuk
kerja, padahal dia statusnya masih seorang Mahasiswa di Universitas di Jakarta.
Dan satu lagi namanya a Dedi asal dari Cimahi, Bandung dan pernah kerja di
Dubai lalu pindah ke Mataram, katanya dia bawa komputer tersebut mau buat
warnet di tempat kakak nya. Sedang asik nya ngobrol tiba-tiba kapal pun mulai
bergoyang kencang akibat di hantam ombak, dan ternyata kita sudah berada di
tengah-tengah. Ombak seperti ini pasti dapat membalikan perahu dengan 20 orang
didalam nya. Untung saja si pengemudi perahu handal mengatasi nya, akan tetapi
tiba-tiba saja “Byuuurrrr !!!” air laut pun masuk manghantam saya dan a Imam
hingga baju dan celana pun basah. Yang lebih parahnya itu kena komputer yang di
bawa a Dedi. Langsung saja saya respon untuk membersihkannya dari air laut,
nanti bisa menjadi karat dan konslet ketika dihubungkan ke arus listrik.
Setelah
melewati ombak yang cukup besar, akhir nya kita sampai di Gili Trawangan
sekitar pukul 12.30 WITa. Hamparan pasir putih dengan warna air biru toska pun
menyambut kedatangan kami. Tujuan kami menuju Gili Trawangan pun tercapai,
Saya, Ruby & Rizkar pun tidak berhenti melebarkan senyum. Planning yang telah direncanakan dari
tahun kemarin akhirnya tercapai juga, walaupun cuman bertiga doang. Ketika
sampai, kami ditawari untuk mampir sejenak ke tempatnya a Dedi, tentunya kami
juga harus membantu barang bawaan a Dedi berupa sekitar 4 buah seperangkat
komputer. Di Gili Trawangan ini Pulau yang bebas dari polusi dan polisi.
Kendaraan yang digunakan di sini adalah Cidomo (delman) dan sepeda. Bebas dari
polisi karena disini tidak ada kantor polisi. Tapi bukan berarti kita bebas
ngapa-ngapain, ada peraturan juga disini. Sepanjang jalan terlihat wisatawan
asing dengan hanya menggunakan bikini, disamping itu tempat makan, hotel dan
bar-bar terlihat dikiri kanan jalan. Kontur jalan disini sudah di paving blok,
walaupun hanya di sebagian tempat yang ramai saja, setengahnya sedang dalam
tahap pengerjaan. Sesampainya di tempat
a Dedi, ternyata yang kita singgahin ini berupa Cottage yang dimiliki oleh
kakak nya a Dedi dengan nama Cottage nya Bale Sasak. Kami pun mampir sejenak
disini karena disuruh istirahat dulu di loby nya. Bale Sasak ini merupakan
Cottage dengan harga cukup murah dan dilengkapi fasilitas yang sangat lengkap,
dari free Wi-fi, DVD Player, TV tunner dan sepeda gratis. Bale Sasak juga di
desain menyerupai rumah Sasak khas Lombok. Pokok nya Bale Sasak ini tempat yang
pas untuk menginap di Gili Trawangan dengan gaya khas Lombok nya. A Dedi pun
menawarkan kami kamar dengan harga 200 ribu semalam, dan ketika kami liat
kamarnya ternyata ada 2 bed + AC + kamar mandi + Breakfastuntuk 3 orang. Kata a Dedi berhubung kenal dikasih lah
kami harga murah. Terimaksih buat a Dedi dan a Imam yang udah kasih kami
penginapan murah.
Barang-barang
kami pun masukan ke kamar, tidak lupa kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah
memeberi kami kelancaran perjalanan hingga bertemu orang-orang yang baik dan
memberi kami tempat tinggal yang nyaman. Setelah beberas barang-barang, saya
coba membantu a Dedi dan a Imam yang lagi settingKomputer
di Loby, yang katanya rencana mau buat warnet. Ternyata setelah di bongkar dan
di lihat CPU nya sudah dipreteli, jadi lah si komputer tidak bisa nyala. Kata a
Dedi padahal sebelumnya si komputer ini di ambil dari warnet punya a Dedi di
Mataram, ternyata sudah dipreteli dulu oleh orang yang disuruh jaga warnetnya.
Ketika dilihat keseluruhan oleh saya dan a Imam, ternyata ada kemungkinan hanya
1 atau 2 komputer saja yang bisa nyala. Kembali lah saya mengutak-atik komputer
tersebut, tak lama kemudian a Dedi dan a Imam harus pamit pulang ke Mataram, karena
ada kerjaan lagi yang harus diselesaikan. Jadi yang harus saya lakukan disini
menyelesaikan komputer dan memberitahu kekurangan apa saja yang nanti
dibutuhkan untuk komputer ini. Rizkar
dan Ruby pun datang untuk membantu membereskan nya.
Setelah
mengutak-atik lama, Komputer pun akhirnya nyala, walaupun cuman satu saja. Tapi
tak apalah, yang penting tinggal laporan ke a Dedi. Sekitar jam 3 an saya dan
Rizkar pun duluan untuk pergi berjalan-jalan di sekitar pantai, karena Ruby
sedang di kamar mandi. Jarak dari Bale Sasak ke pantai tidak terlalu jauh,
hanya berjarak sekitar 50 meter-an. Niatnya sih hari ini cuman cari tempat
snorkling dan jalan-jalan di pantai sambil foto-foto. Eh, ketika saya dan
Rizkar coba berjalan memasuki bibir pantai yang dimana sepanjang bibir pantai
ini terhampar pasir putih yang luas dengan pemandangan di sebrang sana Gili
Meno dengan air laut nya yang begitu biru indah, membuat saya lepas kendali
hingga nyebur duluan ke air meninggalkan rizkar. Hahah. Memang pemandangan alam
ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa indahnya, keindahan pantai nya berhasil
membuat saya tergoda untuk segar menyeburkan diri. Rizkar pun terpaksa hanya
bisa duduk di bibir pantai sambil menunggu Ruby datang dan menjaga kamera.
Terumbu karang dan ikan-ikan di sini pun memaksa saya untuk ber-snorkeling dan akhirnya saya pun menyewa
alat snorkelseharga Rp. 25.000
sepuasnya, tetapi hanya mask & fin nya
saja tanpa life jacket. Benar saja, keindahan terumbu karang dan
ikan-ikan di Gili Trawangan ini sangat menakjubkan. Kita tidak perlu snorkeling terlalu jauh dari bibir
pantai, di dekat bibir pantai saja sudah dapat terlihat ikan-ikan karang yang
yang cantik dengan beragam jenis warna. Ketika saya sedang asik snorkeling, Ruby pun datang dengan
sepeda dan membawa makanan dan minuman. Mengampiri mereka sejenak untuk
bersantai sambil menggoda Rizkar untuk coba snorkeling
juga. Kami bertiga masih tak percaya sudah sampai bisa ke Gili Trawangan ini.
Awalnya sempat pesimis karena masalah dana, akhirnya sampai juga di sini. Dan
sekarang kami hanya ingin menikmati liburan yang sangat menyenangkan ini dengan
melupakan semua beban penat di dalam pikiran ini.
Hari Kedua di Lombok
Senin
12 November 2012, tepat pukul 09.00 WITA kami mencoba keluar kamar dan menuju
loby untuk sarapan. Sebenarnya hari ini kami harus sudah chek out, berhubung kemarin malem nya saya sms a Dedi untuk minta
harga Rp. 300.000 dapet 2 malem, dan alhamdulillah
a Dedi dengan berbaik hati mau memberikan
harga segitu untuk kami. Setelah kami menyantap breakfast khas Bale Sasak, kami siap memulai hari untuk
mengelilingi Pulau Gili Trawangan dan dilanjutkan dengan snorkeling. Perjalanan kami mulai dari art market ke arah barat
terus hingga ketemu tempat snorkeling kemarin.
Dari jalan yang sudah di paving blok sampe yang belum di paving blok kami
lewati. Bibir pantai kami sapa dengan alunan nyanyian dari kami. Sesi foto-foto juga tidak kami lewatkan
disini. Memang keindahan Gili Trawangan ini tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata lagi, seperti bukan di Indonesia. So
banggalah menjadi warga negara Indonesia, karena Indonesia ini merupakan
kaya akan Budaya dan keindahan alam nya. Buat apa pergi keluar negeri kalo
negara sendiri belum terjamah oleh kita, toh keindahan alam Indonesia dipandang
wisatawan asing sebagai destinasi wisata yang wajib.Sepanjang perjalanan yang
kami lihat hanya laut biru dan pasir putih yang membuat hati merasa tenang,
merasa damai dan senang. Ketika ditengah perjalanan kami bertemu dengan 2 bule
cewe dari England yang juga sedang
berkeliling pulau sambil foto-foto dengan SLR nya. Saya coba untuk menyapa nya
dan minta untuk foto bareng. Dengan ramah pun dia menjawab dan mau untuk foto
bareng kami. Say cheeseeee....
Setelah
makan siang, kami siap untuk ber-snorkeling
di tempat kemarin. Kali ini kami akan ber-snorkeling
bertiga, saya dan Rizkar hanya
menyewa fin & mask saja, karena Ruby tidak bisa renang jadi dia menyewa lengkap
dari fin+mask+life jacket seharga 45
ribu sepuasnya. Kami pun siap menikmati hari terakhir kami di pantai Gili
Trawangan ini. Snorkeling kali ini sangat mengasyikan, karena kami
renang mengikuti segerombolan ikan-ikan kecil yang membentuk formasi dan
menari-nari. Ikan-ikan karang pun turut ambil bagian dalam hal ini. Keindahan
terumbu karang dan ikan-ikan disini jangan dipertanyakan lagi, benar-benar amazing , sangat indah sekali. Cahaya
matahari yang membias di dalam air membuat ikan-ikan seakan menyala dan
terlihat sangat indah. Cukup lama kami ber-snorkeling
disini, hampir seluruh spot kami jelajahi dan hingga bisa melihat
penyu-penyu yang sedang mencari makanan.Karena waktu yang cukup panjang, jadi
kami sangat menikmati snorkeling kali
ini. Langit mulai mendung dan gerimis pun tak terhindari, sebelum hujan besar
kami pun bergegas kembali ke cottage.
Hujan
mengguyur pulau ini dari jam 18.00 WITA hingga larut malam, kami pun yang
hendak makan malam keluar menikmati ikan bakar khas Gili Trawangan terpaksa
tertahan. Yang kami bisa lakukan adalah menunggu hujan reda, dan kami pun hanya
bisa main catur di lobby cottage hingga pukul 23.00 WITA. Akhirnya hujan pun mulai
menjadi rintik, kami coba keluar dan
mencari makan sambil berharap art market masih
buka. Sesampainya di art market ternyata masih ada yang
jualan, tetapi bukan ikan bakar melainkan pecel ayam dengan berbagai macam
ikan. Cukup mengejutkan pecel ayam disini, potongan ayam nya besar-besar, jadi
pas untuk porsi yang sedang lapar seperti kami. Setelah makan, kami mencoba
mencari bar-bar yang masih buka untuk menikmati malam terakhir di Gili
Trawangan ini. Susana malam yang masih ditemani rintik hujan menemani kami
menuju Sama-Sama Reggae Bar untuk melihat apakah masih buka. Akhirnya kami
putuskan untuk menikmati malam terakhir ini di Sama-Sama Reggae Bar yang masih
buka ini sambil menikmati alunan live
music. Bule-bule pun berdansa dan bergoyang
menikmati alunan musik, begitu pun dengan kami yang bergoyang-goyang di
tempat duduk saja, karena disini kebanyakan bule nya daripada orang pribumi
nya. Sampai akhirnya live musicberganti
dengan musik Dj dan waktu pun sudah menujukan pukul 2.00 WITA, kami pun harus
kembali ke cottage dan harus beristirahat untuk perjalan besok ke Pulau Lombok.
Bagi kami sudah cukup malam ini kami nikmati dengan sempurna, dan kami harus
beristirahat dan menyiapkan segala sesuatunya untuk petualangan di esok hari.
0 komentar:
Posting Komentar