Selasa, 20 November 2012

TRIP LOMBOK PART 1

Hari Pertama di Lombok

Pagi pertama di Lombok, kami pun siap memulai petualangan baru, hari Minggu tanggal 11 November 2012. Setelah kami mandi dan menyantap sarapan yang di sediakan oleh keluarga Om Rudi, kami pun siap-siap untuk menuju Gili Trawangan yang menjadi tujuan utama kami. Sekitar pukul 9.30 WITa kami siap berangkat dan Alhamdulillah Om Rudi dan istrinya mau mengantarkan kami sampai ke Prempatan Rembiga, dimana dari perempatan ini ada angkutan umum yang langsung menuju Pelabuhan Bangsal. Dari Labu Api sampai perempatan Rembiga kira-kira sekitar 30 menit. Kami pun melewati Bandara Salamparang Lombok, yang kini keadaanya sudah tidak terurus, kira-kira sudah setahun lebih Bandara Lombok di pindahkan ke Lombok Tengah dengan nama Bandara Internasional Lombok (BIL). Mungkin karena Bandara Salamparang ini lahan nya tidak memadai untuk penerbangan luar negeri dan fasilitasnya juga mungkin tidak begitu cukup baik, jadi Bandara nya dipindahkan. Sesampainya di perempatan Rembiga, kami membeli perbekalan di warung terdekat, menurut saran Om Rudi katanya harga makanan dan minuman di Gili Trawangan mahal-mahal, jadi lebih baik bawa perbekalan dari sini. Setelah tas kami pull dengan amunisi, kami pun sudah di carter oleh sopir angkot yang siap mengantarkan kami sampai Pelabuhan Bangsal dengan harga Rp. 50.000 bertiga. Tanpa basa-basi kami pun langsung naik angkotnya dan siap berangkat. Perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal ini kita melewati jalur pegunungan yang dinamakan Hutan Kusut yang masih sangat asri di pandang mata. Jalur yang berbelok-belok sudah tidak asing lagi, begitu juga tanjakan dengan panjang kira-kira sekitar 10 Km. Hingga ujung puncak tanjakan ini terdapat tempat peristirahatan dan di puncak ini juga merupakan perbatasan antara Kabupaten Lombok Barat dengan Kabupaten Lombok Timur. Setelah melewati puncak dan perbatasan baru lah kontur jalan mulai menurun. Ketika kita menuruni pegunungan ini, ada sesuatu yang membuat saya sangat tertarik dan senang, yaitu melihat pemandangan indah di sebrang kiri sana dan melihat monyet-monyet yang berjejer di pinggir jalan sepanjang turunan seperti pager ayu dan pager bagus yang menyambut kedatangan tamu nya. Monyet-monyet tersebut duduk dan sambil melihat lalu lalang kendaraan yang lewat. Bahkan ada beberapa kendaraan yang berhenti untuk memberi makan kepada monyet-monyet tersebut. Sungguh pemandangan yang sangat menarik, seperti di Taman Safari, hahah. Saya pun yang duduk di samping sopir coba mengabadikannya lewat iPhone, walaupun hasilnya kurang yang penting dapet moment nya.

Pukul 11.15 WITa akhirnya kami sampai di Pelabuhan Bangsal. Pelabuhan Bangsal ini tempat penyebrangan menuju 3 Gili, yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Dari sini juga terlihat cukup dekat ketiga  Gili tersebut. Kami pun tidak sabar untuk menginjakan kaki di Gili Trawangan. Tanpa terasa, dengan modal nekat dan budget minim akhirnya kami selangkah lagi menuju Gili Trawangan. Langsung saja kami menuju loket tiket perahu untuk membeli tiket perahu publik dengan harga Rp. 10.000/orang, tentunya perahu harus sampai kuota 20 orang baru akan berangkat. kami kebagian tiket yang berwarna kuning, jadi setiap warna terdapat 20 orang yang siap menaiki Public Boat. Setelah tiket biru sudah naik semua dan berangkat, kemudian giliran tiket kuning yang siap berangkat, dan itu tiket kami. Tak sabar, kami pun langsung menaiki Public Boat dan mengambil posisi duduk. Sekitar pukul 11.45 WITa Public Boat kami pun berangkat menuju Gili Trawangan. Saya pun melihat orang-orang yang duduk di perahu ini, saya pikir pasti mereka dari berbagai macam daerah. Tepat disebalah saya ada 2 orang yang membawa peralatan komputer, dan saya pun penasara bertanya kepada orang tersebut. Ternyata orang yang disebelah saya orang Tangerang namanya a Imam dan katanya di juga sering ke Serang tepatnya ke Pasar Rau, karena ada sodaranya disana. Dia ke Lombok ini ikut bareng kakaknya untuk kerja, padahal dia statusnya masih seorang Mahasiswa di Universitas di Jakarta. Dan satu lagi namanya a Dedi asal dari Cimahi, Bandung dan pernah kerja di Dubai lalu pindah ke Mataram, katanya dia bawa komputer tersebut mau buat warnet di tempat kakak nya. Sedang asik nya ngobrol tiba-tiba kapal pun mulai bergoyang kencang akibat di hantam ombak, dan ternyata kita sudah berada di tengah-tengah. Ombak seperti ini pasti dapat membalikan perahu dengan 20 orang didalam nya. Untung saja si pengemudi perahu handal mengatasi nya, akan tetapi tiba-tiba saja “Byuuurrrr !!!” air laut pun masuk manghantam saya dan a Imam hingga baju dan celana pun basah. Yang lebih parahnya itu kena komputer yang di bawa a Dedi. Langsung saja saya respon untuk membersihkannya dari air laut, nanti bisa menjadi karat dan konslet ketika dihubungkan ke arus listrik.

Setelah melewati ombak yang cukup besar, akhir nya kita sampai di Gili Trawangan sekitar pukul 12.30 WITa. Hamparan pasir putih dengan warna air biru toska pun menyambut kedatangan kami. Tujuan kami menuju Gili Trawangan pun tercapai, Saya, Ruby & Rizkar pun tidak berhenti melebarkan senyum. Planning yang telah direncanakan dari tahun kemarin akhirnya tercapai juga, walaupun cuman bertiga doang. Ketika sampai, kami ditawari untuk mampir sejenak ke tempatnya a Dedi, tentunya kami juga harus membantu barang bawaan a Dedi berupa sekitar 4 buah seperangkat komputer. Di Gili Trawangan ini Pulau yang bebas dari polusi dan polisi. Kendaraan yang digunakan di sini adalah Cidomo (delman) dan sepeda. Bebas dari polisi karena disini tidak ada kantor polisi. Tapi bukan berarti kita bebas ngapa-ngapain, ada peraturan juga disini. Sepanjang jalan terlihat wisatawan asing dengan hanya menggunakan bikini, disamping itu tempat makan, hotel dan bar-bar terlihat dikiri kanan jalan. Kontur jalan disini sudah di paving blok, walaupun hanya di sebagian tempat yang ramai saja, setengahnya sedang dalam tahap pengerjaan.  Sesampainya di tempat a Dedi, ternyata yang kita singgahin ini berupa Cottage yang dimiliki oleh kakak nya a Dedi dengan nama Cottage nya Bale Sasak. Kami pun mampir sejenak disini karena disuruh istirahat dulu di loby nya. Bale Sasak ini merupakan Cottage dengan harga cukup murah dan dilengkapi fasilitas yang sangat lengkap, dari free Wi-fi, DVD Player, TV tunner dan sepeda gratis. Bale Sasak juga di desain menyerupai rumah Sasak khas Lombok. Pokok nya Bale Sasak ini tempat yang pas untuk menginap di Gili Trawangan dengan gaya khas Lombok nya. A Dedi pun menawarkan kami kamar dengan harga 200 ribu semalam, dan ketika kami liat kamarnya ternyata ada 2 bed + AC + kamar mandi + Breakfastuntuk 3 orang. Kata a Dedi berhubung kenal dikasih lah kami harga murah. Terimaksih buat a Dedi dan a Imam yang udah kasih kami penginapan murah. 

Barang-barang kami pun masukan ke kamar, tidak lupa kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah memeberi kami kelancaran perjalanan hingga bertemu orang-orang yang baik dan memberi kami tempat tinggal yang nyaman. Setelah beberas barang-barang, saya coba membantu a Dedi dan a Imam yang lagi settingKomputer di Loby, yang katanya rencana mau buat warnet. Ternyata setelah di bongkar dan di lihat CPU nya sudah dipreteli, jadi lah si komputer tidak bisa nyala. Kata a Dedi padahal sebelumnya si komputer ini di ambil dari warnet punya a Dedi di Mataram, ternyata sudah dipreteli dulu oleh orang yang disuruh jaga warnetnya. Ketika dilihat keseluruhan oleh saya dan a Imam, ternyata ada kemungkinan hanya 1 atau 2 komputer saja yang bisa nyala. Kembali lah saya mengutak-atik komputer tersebut, tak lama kemudian a Dedi dan a Imam harus pamit pulang ke Mataram, karena ada kerjaan lagi yang harus diselesaikan. Jadi yang harus saya lakukan disini menyelesaikan komputer dan memberitahu kekurangan apa saja yang nanti dibutuhkan untuk komputer ini.  Rizkar dan Ruby pun datang untuk membantu membereskan nya. 

Setelah mengutak-atik lama, Komputer pun akhirnya nyala, walaupun cuman satu saja. Tapi tak apalah, yang penting tinggal laporan ke a Dedi. Sekitar jam 3 an saya dan Rizkar pun duluan untuk pergi berjalan-jalan di sekitar pantai, karena Ruby sedang di kamar mandi. Jarak dari Bale Sasak ke pantai tidak terlalu jauh, hanya berjarak sekitar 50 meter-an. Niatnya sih hari ini cuman cari tempat snorkling dan jalan-jalan di pantai sambil foto-foto. Eh, ketika saya dan Rizkar coba berjalan memasuki bibir pantai yang dimana sepanjang bibir pantai ini terhampar pasir putih yang luas dengan pemandangan di sebrang sana Gili Meno dengan air laut nya yang begitu biru indah, membuat saya lepas kendali hingga nyebur duluan ke air meninggalkan rizkar. Hahah. Memang pemandangan alam ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa indahnya, keindahan pantai nya berhasil membuat saya tergoda untuk segar menyeburkan diri. Rizkar pun terpaksa hanya bisa duduk di bibir pantai sambil menunggu Ruby datang dan menjaga kamera. Terumbu karang dan ikan-ikan di sini pun memaksa saya untuk ber-snorkeling dan akhirnya saya pun menyewa alat snorkelseharga Rp. 25.000 sepuasnya, tetapi hanya mask & fin nya saja tanpa life jacket.  Benar saja, keindahan terumbu karang dan ikan-ikan di Gili Trawangan ini sangat menakjubkan. Kita tidak perlu snorkeling terlalu jauh dari bibir pantai, di dekat bibir pantai saja sudah dapat terlihat ikan-ikan karang yang yang cantik dengan beragam jenis warna. Ketika saya sedang asik snorkeling, Ruby pun datang dengan sepeda dan membawa makanan dan minuman. Mengampiri mereka sejenak untuk bersantai sambil menggoda Rizkar untuk coba snorkeling juga. Kami bertiga masih tak percaya sudah sampai bisa ke Gili Trawangan ini. Awalnya sempat pesimis karena masalah dana, akhirnya sampai juga di sini. Dan sekarang kami hanya ingin menikmati liburan yang sangat menyenangkan ini dengan melupakan semua beban penat di dalam pikiran ini. 

Sambil ngobrol santai, sambil melihat pemandangan indah pantai, sambil melihat wisatawan asing berlalu lalang dan sambil renang hingga ber-snorkeling, waktu pun tak terasa menujukan pukul 17.20 WITa. Sasaran berikutnya adalah mencari sunset point di Gili Trawangan ini. Setelah bersantai dan berenang kami pun pergi ke barat daya pulau untuk mencari sunset. Sepanjang perjalanan masih ditemani Cottage dan bar-bar di sebelah kiri dan kanan jalan. Ruby yang bawa sepeda pun dengan santai menggowesnya, tapi tidak untuk saya dan Rizkar yang harus jalan kaki menyusuri jalan hingga terlihat sunset di ujung pulau Gili Trawangan. Sungguh pemandangan sunset yang sangat indah, walaupun kita agak telat mencapi titik ini, tapi matahari pun masih mau membagi keindahan nya kepada kami dipenghujung horizon. Tak lupa kami pun mengabadikannya dengan kamera. Setelah melihat keindahan sunset kami pun kembali ke cottage. Dari sunset point ini ke cottage Bale Sasak cukup jauh, karena perjalanan di tempuh dari ujung pulang ke ujung satu nya lagi. Selama perjalanan pulang kami melihat ikan-ikan sudah di pajang di sepanjang jalan oleh restoran-restoran. Segala jenis ikan laut hampir ada disini. Dan itu menjadi inspirasi kami untuk menu makan malam. Kami pun lihat harga-harga nya cukup mahal, karena mungkin pangsa pasar meraka adalah wisatawan asing. Ketika kami sampai di pertigaan mau ke Bale Sasak, kami melihat ada semacam foodcourt sederhana di halaman yang cukup luas, dan ternyat itu namanya Pasar Seni (art market). Katanya disana ada berbagai macam makanan, dari ikan bakar, pecel ayam, martabak, sate ayam dan lain-lain. Sudah ditetapkan, nanti malam kami akan makan ikan bakar di art market, karena harga nya pasti murah, dan mengingat budget kami yang minim. Sesampainya di  Bale Sasak, kami pun langsung mandi dan siap-siap untuk menikmati malam.

Sekitar pukul 21.00 WITa, kami pun berangkat ke art marketuntuk menyantap ikan bakar. Dikira kami kalo udah jam 9 an gini bakalan sepi, eh ternyata sesampainya disana masih rame bule-bule yang sedang makan dan ngobrol santai.  Langsung kami mencari ikan bakar dan mencari posisi duduk. Setelah ikan di pesan dengan harga Rp. 70.000 + 3 nasi + 3 tumis kangkung, kami pun mendapatkan tempat duduk yang dimana tepat disebelah kami seorang pasangan bule yang sedang ngobrol santai.  Dengan canggung pun kami duduk  disebelahnya. Hingga kejadian yang tidak mengenakan dan akhirnya si pasangan bule tersebut pergi. Catatan “jangan ngomong asal ataupun menyinggung dengan bahasa Indonesia di depan Bule, karena sebagian Bule juga dapat mengerti bahasa Indonesia”. Tak apalah, yang penting kami bertiga sedikit agak nyaman untuk menyantap ikan bakar ini. Harga makanan disini memang terbilang cukup murah dibanding dengan tempat makan (restoran) di sepanjang jalan utama Gili Trawangan, dan jangan malu untuk menawar harga Ikan nya yah. 1 ikan bakar porsi besar pun habis dengan kami  bertiga. Setelah menyantap nya, kami pergi berjalan-jalan di sepanjang jalan utama sambil melihat-lihat bar-bar dengan live music yang sangat menarik perhatian dan bule-bule didalam nya sedang bergoyang mengikuti alunan musik.  Akan tetapi kami memelih menikmati malam di pinggir pantai sambil melihat langit yang bertabur bintang dan tentunya di temani dengan alunan live musicdari Bar yang terdengar hingga ketelinga kami. Sambil ngobrol santai, sambil menikmati indahnya langit malam ini kami lewati hingga pukul 24.00 WITa. Kami pun lekas pulang ke Cottage untuk beristihat dan menyiapkan tenaga untuk hari esok.

Hari Kedua di Lombok

 Senin 12 November 2012, tepat pukul 09.00 WITA kami mencoba keluar kamar dan menuju loby untuk sarapan. Sebenarnya hari ini kami harus sudah chek out, berhubung kemarin malem nya saya sms a Dedi untuk minta harga Rp. 300.000 dapet 2 malem, dan alhamdulillah  a Dedi dengan berbaik hati mau memberikan harga segitu untuk kami. Setelah kami menyantap breakfast khas Bale Sasak, kami siap memulai hari untuk mengelilingi Pulau Gili Trawangan dan dilanjutkan dengan snorkeling. Perjalanan kami mulai dari art market  ke arah barat terus hingga ketemu tempat snorkeling kemarin. Dari jalan yang sudah di paving blok sampe yang belum di paving blok kami lewati. Bibir pantai kami sapa dengan alunan nyanyian dari kami.  Sesi foto-foto juga tidak kami lewatkan disini. Memang keindahan Gili Trawangan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi, seperti bukan di Indonesia. So banggalah menjadi warga negara Indonesia, karena Indonesia ini merupakan kaya akan Budaya dan keindahan alam nya. Buat apa pergi keluar negeri kalo negara sendiri belum terjamah oleh kita, toh keindahan alam Indonesia dipandang wisatawan asing sebagai destinasi wisata yang wajib.Sepanjang perjalanan yang kami lihat hanya laut biru dan pasir putih yang membuat hati merasa tenang, merasa damai dan senang. Ketika ditengah perjalanan kami bertemu dengan 2 bule cewe dari England yang juga sedang berkeliling pulau sambil foto-foto dengan SLR nya. Saya coba untuk menyapa nya dan minta untuk foto bareng. Dengan ramah pun dia menjawab dan mau untuk foto bareng kami. Say cheeseeee....

Setelah  foto sejenak bareng bule, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Pada saat itu terik matahari sangat menyengat dan berhasil membuat kami kehausan. Apesnya lagi kami tidak bawa air minum, dan sepanjang perjalanan tadi pun kami tidak menemukan warung yang menjual air mineral, karena sisi lain dari Gili Trawangan ini masih jarang sekali berdiri penginapan maupun rumah warga. Akhirnya kami sampai ditempat kemarin foto-foto sunset, dan kami pun menemukan bar kecil di pinggir jalan, lalu dengan segera saya membeli air mineral kemasan 600 ml. Ternyata ketika di tanya harga si penjual pun menjawab “sepuluh ribu ria saja”, dengan heran dan terkejut saya pun mengeluarkan uang Rp. 10.000. Luar biasa mahalnya, mungkin si penjual tau kalo kami lagi kehausan. Tak jauh dari situ, kami beristirahat sejenak di warung makanan tradisional. Di sini menyediakan Nasi Campur khas Lombok, ada rujak juga, dan ada seperti gado-gado. Kami putuskan untuk makan siang disini, karena mengingat nanti mau snorkeling, jadi isi perut dulu deh biar snorkeling nya enak. 

Setelah makan siang, kami siap untuk ber-snorkeling di tempat kemarin. Kali ini kami akan ber-snorkeling ­­bertiga, saya dan Rizkar  hanya menyewa fin & mask saja, karena Ruby  tidak bisa renang jadi dia menyewa lengkap dari fin+mask+life jacket seharga 45 ribu sepuasnya. Kami pun siap menikmati hari terakhir kami di pantai Gili Trawangan ini. Snorkeling  kali ini sangat mengasyikan, karena kami renang mengikuti segerombolan ikan-ikan kecil yang membentuk formasi dan menari-nari. Ikan-ikan karang pun turut ambil bagian dalam hal ini. Keindahan terumbu karang dan ikan-ikan disini jangan dipertanyakan lagi, benar-benar amazing , sangat indah sekali. Cahaya matahari yang membias di dalam air membuat ikan-ikan seakan menyala dan terlihat sangat indah. Cukup lama kami ber-snorkeling disini, hampir seluruh spot kami jelajahi dan hingga bisa melihat penyu-penyu yang sedang mencari makanan.Karena waktu yang cukup panjang, jadi kami sangat menikmati snorkeling kali ini. Langit mulai mendung dan gerimis pun tak terhindari, sebelum hujan besar kami pun bergegas kembali ke cottage.

Hujan mengguyur pulau ini dari jam 18.00 WITA hingga larut malam, kami pun yang hendak makan malam keluar menikmati ikan bakar khas Gili Trawangan terpaksa tertahan. Yang kami bisa lakukan adalah menunggu hujan reda, dan kami pun hanya bisa main catur di lobby cottage hingga pukul 23.00 WITA. Akhirnya hujan pun mulai menjadi rintik,  kami coba keluar dan mencari makan sambil berharap art market masih buka.  Sesampainya di art market ternyata masih ada yang jualan, tetapi bukan ikan bakar melainkan pecel ayam dengan berbagai macam ikan. Cukup mengejutkan pecel ayam disini, potongan ayam nya besar-besar, jadi pas untuk porsi yang sedang lapar seperti kami. Setelah makan, kami mencoba mencari bar-bar yang masih buka untuk menikmati malam terakhir di Gili Trawangan ini. Susana malam yang masih ditemani rintik hujan menemani kami menuju Sama-Sama Reggae Bar untuk melihat apakah masih buka. Akhirnya kami putuskan untuk menikmati malam terakhir ini di Sama-Sama Reggae Bar yang masih buka ini sambil menikmati alunan live music. Bule-bule pun berdansa dan bergoyang  menikmati alunan musik, begitu pun dengan kami yang bergoyang-goyang di tempat duduk saja, karena disini kebanyakan bule nya daripada orang pribumi nya. Sampai akhirnya live musicberganti dengan musik Dj dan waktu pun sudah menujukan pukul 2.00 WITA, kami pun harus kembali ke cottage dan harus beristirahat untuk perjalan besok ke Pulau Lombok. Bagi kami sudah cukup malam ini kami nikmati dengan sempurna, dan kami harus beristirahat dan menyiapkan segala sesuatunya untuk petualangan di esok hari.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More